SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG
Terus Bergerak

Jumat, 07 Agustus 2015

Korban Partai


sumber: Kompas.com
Suatu pagi di pangkal Mei 2015, saya menyertai seorang birokrat senior memenuhi panggilan salah satu partai politik (parpol) di Kota Makassar. Hari masih pagi, jalan AP Pettarani masih lengang. Sekretariat parpol tingkat provinsi yang dituju juga belum “bangun”.

Dalam cerita ini, saya memberi nama birokrat ini dengan nama “Petta”. Petta ini, seperti juga figur-figur lain yang hendak menjadi calon kepala daerah, saya memberinya gelar “calon korban”. Kenapa korban? Ikut saja cerita ini, akan terjawab mengapa mereka lebih awal saya menyebutnya calon korban.

Petta ini hendak menjalani ritual pemaparan visi-misi atas rencananya menjadi calon kepala daerah pada Pilkada Serentak tahun 2015 ini. Pencoblosannya pada Desember 2015. Sementara Pencalonan pada akhir Juli 2015. Bentangan waktu masih lama dari Mei ke Juli, dari Mei ke Desember. Masih bisa wafat beberapa kali sebelum mendaftar jadi calon di kantor KPU kabupaten pada akhir Juli.

Konon, mirip-mirip alkisah. Kesempurnaan mental dan wawasan sang calon korban saat paparkan visi-misi di depan panelis partai di tingkatan ini sangat menentukan peluang untuk dicalonkan partai yang bersangkutan. Berpeluang mendapatkan sabda DPP.
Ini adalah etape kedua rangkaian ritual ini. Etape yang baru saja berlalu adalah ritual pemaparan visi dan misi di depan panel forum partai yang sama seperti ini di tingkat pimpinan kabupaten. Kira-kira sepekan sebelum di tingkat provinsi ini.

Pemaparan visi dan misi di tingkat provinsi ini relatif lebih komplit ketimbang di kabupaten sebelumnya. Di tingkat ini, panelnya terdiri dari kalangan akademik dua orang, seorang bergelar doktor dan seorang lagi bergelar profesor dan doktor.

Anggota panel lainnya terdiri dari praktisi yang ekspert di bidang pemerintahan, bidang ekonomi makro, bidang ekonomi mikro, dan bidang pertanian-peternakan. Pokoknya, komplitlah. Mereka itu cerdas bin pintar, dan dihonor tinggi-tinggi oleh pengurus DPD partai.

Petta dan calon korban lainnya dicecar oleh anggota panel forum dengan berbagai ragam dan bentuk pertanyaan. Mirip-mirip polisi rahasia Uni Soviet ketika menginterogasi informannya. Saklek, ketat dan nyinyir. Para profesor dan doktor yang wawasannya di bawah standar akademik itu, sangat memukau ketika bertanya.

Tak berapa setelah itu, kawanan figur-figur yang hendak jadi calon korban itu bergerak bergerombol menyerbu Jakarta. Di pusat ini, mereka bergerak berpindah-pindah seperti nelayan mengikuti arus ikan di laut. Mereka digilir, dipelonco oleh interogator-interogator di depan pimpinan partai tingkat pusat (DPP).

Mereka, termasuk Petta, ikhlas dan pasrah mengikuti perpeloncoan DPP. Tidak tanggung-tanggung, ada figur yang habiskan waktu di Jakarta sampai sebulan untuk sambangi 12 kantor DPP partai-partai. Termasuk juga dua partai yang punya dua kantor DPP di Jakarta, Partai PPP dan Partai Golkar.

Di DPP pada salah satu partai misalnya, juga banyak makelar-makelar yang siap 24 jam melumat calon korban seperti Petta. Seorang sekretaris umum partai misalnya, menggerakkan beberapa makelar sesuai jumlah calon korban yang membutuhkan tanda-tangannya. Demikian pula sang ketua umum.

Sementara pengurus lainnya di DPP partai memberikan “bimbingan tes” kepada calon korban untuk menghadapi Uji Fit dan Proper Test. Saya jadi ingat bimbingan tes orang-orang yang sedang melamar pekerjaan. Calon korban siap memberikan presentase terbaik tentang visi-misi mereka.

Para calon korban dan tim berjubel di kantor DPP seperti calon penerima bantuan Sembako di tepi jalan. Seperti kantor POS yang diserbu penerima BLT (Bantuan Langsung Tunai).

Apa sebenarnya yang terjadi dengan jalan berliku itu semua? Itu yang selalu saya tanyakan saat bulan Juli 2015 beranjak berlalu. Pendaftaran calon di KPU di daerah berlangsung 26 – 28 Juli 2015. Itu artinya, calon korban harus selesaikan URUSAN-nya di DPP paling lambat 27 Juli, sisa tiga hari lagi.

Saya tulis “urusan” dengan huruf kapital. Kenapa? Calon korban ternyata tidak berurusan dengan visi-misi di DPP. Visi-Misi itu hanya sampul Buku Cek (chaque). Yang terpenting diurus oleh calon korban adalah apa kewajiban yang harus mereka tunaikan berdasarkan nominal yang ada pada Buku Cek itu. 

Seorang calon korban sudah diharapkan lebih awal di DPP bahwa perkara visi-misinya sudah bagus, excellent. Hebat bin luar biasa. Dinilai atau tidak dinilai oleh profesor, doktor, atau master, hasil tetap sama. Di DPP, nilai dalam Buku Cek lah yang menjadi faktor pengali terhadap nilai visi-misi.

Bila calon korban gagal memahami isi Buku Cek itu, maka sia-sialah semua visi-misi yang telah dipaparkan mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat DPP. Sabda DPP tidak akan keluar jika calon korban belum lunasi kewajibannya sebagaimana dalam Buku Cek itu.

Apa isi Buku Cek itu? Kesannya seperti kitab suci saja, yang mungkin memuat dalil keselamatan dan kecelakaan bagi sang calon korban!

Buku Cek itu memuat suatu nilai rupiah, atau dolar. Suatu ongkos. Suatu tarif. Suatu yang tak bisa dipertukarkan dengan visi-misi. Dengan sumpah atau janji. Termasuk dengan Loyalitas kepartaian. Juga dengan hasil survei yang top juga tidak tajir.

Besarannya berapa? Itu juga tidak jelas. Alas argumen suatu besaran nilai rupiah dalam Buku Cek itu cair-lentur, dan juga liar. Ada nilai yang dikalikan dengan jumlah kursi di parlemen. Ada juga tanpa argumen sedikit pun.

Saat itu di Jakarta, 27 Juli 2015. Mata saya menatap kosong ke arah Petta yang lunglai. Dia duduk diam-kaku seperti karung tinju. Perkaranya, calon korban partai lainnya yang telah mendapatkan sabda DPP, telah berangkat menyebar ke seluruh pelosok nusantara menemukan kantor KPU. Sementara Petta hanya mendapatkan janji DPP yang kian samar tertinggal roda waktu.

Petta tidak berdaya melihat angka dalam Buku Cek yang harus ditunaikan, Rp 3 milyar. Itu untuk tiga kursi. Lebih besar dari partai koalisi lain yang hanya Rp 1 milyar untuk dua kursi.  

Pada akhirnya Petta sanggupi nilai Rp 1 milyar per kursi itu. Tapi kesanggupan itu tidak menolong. Sebab DPP memihak kepada penawar tertinggi dari calon korban lainnya, yakni Rp 1,5 milyar per kursi. Tunai tanpa embel-embel. Petta tidak sanggup, meskipun ia jual mahal mertuanya atau ipar-iparnya.

Itulah sebabnya kenapa Petta menjadi diam-kaku seperti karung tinju penuh pasir yang jatuh ke lantai. Ia shock karena memikirkan pemaparan visi-misi yang gagah nan cerdas itu. Semua menjadi tidak berarti. Ibarat menggantang asap di angkasa.

DPP memainkan calon korban seperti halnya dalam permainan Halma, menggerakkan pion-pion. Jika membosankan, DPP bisa meninggalkan papan Halma dan melemparkan kembali pion-pion batu itu ke bahu jalan.

“Saya seperti baru saja dihajar bertubi-tubi oleh lawan dan wasit di ring tinju,” ujar Petta sambil matanya tajam menatap dinding tak berkedip. Tangannya terus terkepal.

Benar saja. Petta tidak melaju begitu saja hingga ke DPP di Jakarta. Di dewan pimpinan kecamatan, dirinya dihajar pukulan Jab sebelum diizinkan ber-visi-misi. Di tingkat kabupaten, Petta dihajar dengan pukulan Straight sebelum dizinkan ber-Visi-misi.

Di tingkat Dewan Pimpinan provinsi, Petta dihajar dengan pukulan Hook yang cukup mematikan. Di DPP Jakarta, dihajar dengan pukulan Upper-Cut. Jenis pukulan yang terakhir ini sering menghasilkan KO bagi yang terkena pukulan.

Nilai sakit yang ditimbulkan oleh Upper-Cut adalah Rp 1,5 milyar per kursi. Hook senilai Rp 150 juta, Straight senilai Rp 15 juta, dan Jab senilai Rp 1,5 juta.

Untuk mendapatkan sabda DPP, seorang calon korban harus mendapatkan hajaran dengan empat jenis pukulan tinju di atas pada setiap level. Bahkan saat masih ada pukulan upper-cut yang tersisa di DPP, sang calon korban terpaksa disiram air harapan visi-misi seember agar bisa siuman. Dan kembali bangkit untuk menerima pukulan Upper-cut dari DPP.

Ada juga calon korban yang tidak dihajar di kecamatan, kabupaten/kota, dan provinsi. Tetapi mendapatkan PUKULAN AGREGAT di DPP. Dihajar secara random, Jab, Hook, Upper-Cut, Straight, Jab, Straight, dan seterusnya.

Itu baru dari satu partai. Jika harus diusung (dicalonkan oleh beberapa partai) secara berkoalisi, calon korban juga harus menjalani hajaran yang serupa itu di partai-partai lain.

Kita berandai-andai saja bahwa calon korban harus diusung oleh oleh tiga partai. Berarti akan dihajar dengan upper-cut sebanyak paling kurang tiga kali. Begitu juga dengan pukulan Hook. Pantas rahang dan pelipis Petta tidak karuan.

Kondisi seorang calon, yang juga korban partai—yang telah dihajar sedemikian rupa untuk mendapatkan sabda DPP agar pendaftaraannya memenuhi syarat di KPU, tentu hancurnya sudah sampai level 90 persen. Mestinya sudah lempar handuk putih.

Saya lihat kerusakan Petta belum sampai 90 persen. Ia baru sampai pada tahap korban partai. Belum korban pilkada. Sudah pasti bahwa korban pilkada, dengan sendirinya juga adalah korban partai.

Jika Calon Korban lolos menjadi calon kepala daerah dalam status rusak 90 persen, lantas kemudian kalah, betapa nelangsa risalah hidup sang korban. Tuhan, semoga mereka jauh dari barang tajam dan racun serangga. Amin.

Setelah partai-partai, gerombolan berikutnya yang siap menghajar calon korban:
1. Kawanan Pengacara
2. Kawanan konsultan hukum
3. Kawanan Tim Sukses
4. Kawanan Konsultan Kampanye
5. Kawanan Lembaga Survei
6. Kawanan makelar percetakan
7. Kawanan biro iklan
8. Kawanan ahli nujum
9. Kawanan Pakkappala’-Tallang (penipu)
10. Kawanan Makelar Massa
11. Kawanan pemilik suara.

Selamat berpilkada. Jangan lupa jika menang, beryukurlah pada Tuhan. Jika kalah, berusujudlah di Mahkamah Konstitusi (MK). Dan, jangan sekali-kali kalah dengan tenang dan ramah.


Makassar, 7 Agustus 2015 
Selengkapnya >>

Kamis, 30 Juli 2015

Uang Setan dan Uang Iblis

From: http://images.rapgenius.com
Seorang pemilik kedai kopi di Kota Makassar bernama Rudy, bertanya kepada saya tadi siang sembari saya menyeruput secangkir kopi. Dari tatapan matanya, saya tahu ia ingin bertanya tentang pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Dia katakan bahwa seorang calon gubernur di Indonesia harus siap-siap dengan uang sejumlah paling kurang Rp 200 milyar jika ingin ikut bertarung dalam pemilihan kepala daerah. Rudy juga menyebutkan bahwa untuk calon bupati, harus menyiapkan duit paling kurang Rp 50 milyar.

Itulah yang ingin Rudy konfirmasi kepada saya, apakah itu betul? Saya jawab bahwa itu betul. Betul 150 persen. Rudy tiba-tiba berpikir membandingkan uang sebanyak itu jika ia menggunakannya untuk menjalankan “bisnis halal”.

Lalu saya meluruskan pikiran Rudy yang komparatif itu. Pilkada adalah suatu arena dimana “uang iblis” dan “uang setan” saling mengintai dan mengintimidasi. Iblis memakan “uang setan” dan setan memangsa “uang iblis”.

Pilkada adalah arena “hitam”, dimana orang-orang tidak tega mengucurkan harta dan rejeki mereka yang didapatkan di jalan halal.

Rudy kemudian bertanya lagi, dari mana calon-calon itu mendapatkan “uang setan” atau “uang jin” itu?

Sekali lagi, bahwa sulit memiliki calon kepala daerah yang ingin menggunakan “uang halal”-nya bertarung di pilkada. Mereka umumnya disokong oleh pengusaha atau investor yang sudah lama bergelut dengan bisnis. Alapagi, calon-calon itu tidak punya uang “baik-baik” hingga sejumlah Rp 200 milyar atau Rp 50 milyar.

Rudy, yang juga seorang pengusaha, keberatan dengan pejelasan saya. Pengusaha atau pebisnis, katanya, tidak mungkin mengucurkan “uang tidak baik”. Alasan Rudy, karena pengusaha atau pebinis hanya punya “uang baik-baik”.

Pada sisi lain, Rudy ada betulnya tentang itu. Tetapi pada sisi yang kelam, Rudy juga tahu bahwa bisnis yang mengelolah proyek APBN dan APBD adalah bisnis yang kerap disebut BISNIS MAKAN BURUNG BERAK KERBAU. Apa itu? Hanya memakan satu sendok, tetapi beraknya satu karung.

Kepada Rudy saya melanjutkan penjelasan. Ada proyek APBN/APBD bernilai Rp 100 milyar, misalnya. Anda mestinya hanya untung paling banyak 20 persen. Ternyata anda bisa untung sampai 50 persen. Nah, yang 30 persen sisanya itulah yang paling gaduh masuk arena pilkada.

Rudy juga tidak lupa bertanya perihal motif pebisnis yang menjadi investor di pilkada. Saya katakan bahwa jika di telpon seluler ada kuota intenet. Maka dalam pemerintahan daerah hasil pilkada, ada juga yang disebut kuota APBD. Kuota itulah motif mereka.

Ada juga investor lain yang bisa berinvestasi di pilkada karena sukses membisniskan jabatan basah dan perizinan.

Saya bertanya, apakah Rudy berhasrat menjadi calon kepala daerah? Dia terbahak. Dia merasa lucu jika ia punya pikiran seperti itu.

“Pak Maqbul, kalau saya punya duit Rp 200 milyar, saya tenang dapat bunga deposito Rp 80 juta per bulan. Tidak ada yang ganggu,” kata Rudy.

Ia bungkam ketika saya timpali bahwa memang dia bisa tenang tetapi tidak bakal pernah mendapatkan kehormatan. Dia hanya berujar simpel bahwa tidak perlu dirinya terhormat dengan cara konyol seperti itu.

Rudy, kamu lugu tapi tidak bijaksana!


Makassar, 30 Juli 2015. 
Selengkapnya >>

Senin, 13 April 2015

Yasril Ananta Baharuddin? Itu Merek Celana Jeans Ya

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Penolakan terhadap Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar Sulsel, Yasril Ananta Baharuddin terus disuarakan. Ada berbagai macam lelucon dan sindiran yang dialamatkan kepada kubu Agung Laksono oleh elite DPD Partai Golkar Sulsel.
Misalnya Maqbul Halim. Wakil Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulsel ini mengaku tidak mengenal Yasril, pengganti Syahrul Yasin Limpo (SYL).
“Yasril Ananta Bahruddin? Itu merek celana jeans, ya!!!!,” tulis @maqbulhalim dalam akun twitternya, Minggu (12/4).
Cuitan Maqbul ini memang beralasan. Sosok Yasril bisa dikata “orang asing” di Golkar Sulsel. Disebutkan Maqbul, kalau mandat dikeluarkan oleh penipu, kata dia, biasanya ditujukan kepada penipu juga. Hasil tipuan mereka akan bernasib buruk. “Perampok, pencuri, penodong, pencopet, semuanya pasti tidak peduli pada hukum. Contoh, mandat pelaksana tugas itu,” cuit Maqbul.
Mantan komisioner KPU Makassar ini pun menganalogikan jika barisan Munas Ancol mengira-ngira sedang membajak mobil bus yang penuh penumpang dan turut mengancamnya.
“Apa mereka hendak rebut bus itu? Tidak. Mereka hanya mempreteli perhiasan penumpang, sambil geledah dompet,” tulis Maqbul.
“Mereka memang bergairah, krn bbrapa penumpang serahkan perhiasan, dompet dan tas mereka kpd pembajak. Daripada dicelurit,”.
“Mereka juga ancam akan keluarkan penumpang dr bus sdng berhenti. Pdhl bus sdh tiba di terminal tujuan terakhir. Hahaha,” demikian cuit Maqbul.
Sumber:
Rakya Sulsel
http://rakyatsulsel.com/yasril-ananta-baharuddin-itu-merek-celana-jeans-ya.html
Selengkapnya >>

Sabtu, 07 Maret 2015

Pengusaha yang Diusahakan

Dalam sebulan ini, saya telah mencoba untuk membangun ruang yang terpisah dari ruang reguler yang selama ini saya tekuni. Meski ini bukan hal yang baru, tetapi setidaknya ini adalah momentum.

Ruang yang saat ini tengah saya susun bukan hal baru. Saya pernah merintis langkah enterpreneur bersama teman-teman awal tahun 2000an. Tidak membuahkan hasil. Meski digerakkan lebih dari satu orang, dan seorang di antaranya adalah kontraktor senior, tetap saja usaha itu tidak bisa ditegakkan secara sehat. Pada akhirnya, usaha itu bubar tanpa pernah disadari dan tanpa diketahui. 

Saya juga pernah merintis usaha dengan beberapa kawan, bergerak di bidang pendidikan, yakni pengadaan alat peraga pendidikan. Usaha yang kami rintis 2001 ini berjalan sebagai laiknya usaha ukuran kecil. Rupanya, saya tidak bisa bertahan dalam usaha ini, dan yang bertahan adalah teman-teman yang memang menyiapkan diri untuk menekuni.

Saban hari tahun 2009, saya juga merintis usaha bersama dengan empat rekan lainnya. Bentuk persahaan yang mewadahi usaha kami adalah perseroan terbatas (PT). Usaha kami bergerak di bidang konstruksi dan pekerjaan umum lainnya. Seperti anda duga, kami masih beratahan sampai sekarang dengah perusahaan itu, tapi tanpa kerjaan. 

Awal tahun ini, 2015, saya kembali mencoba bergiat dengan usaha-usaha enterpreneur. Semoga saya sukses dengan Okkotz dari Makassar. 

Makassar
Sabtu, 7 Maret 2015.
Selengkapnya >>

Selasa, 16 Desember 2014

Setia Raja

Setiap orang ingin dirinya menjadi raja. “Ingin”, seperti halnya menghayal, adalah hak setiap orang. Karena keinginan menjadi raja itu, maka setiap orang ingin menguasai apa saja, termasuk pikiran dan masa depan orang-orang.

Ya, setiap orang ingin dirinya menjadi raja. Karena itu, ia ingin dirinya dilayani hingga pelayan kehabisan masa depan dan pikirannya. Ia ingin, mulai dari bunga pucuk semangka hingga cita-cita anak pelayannya, semua wajib melayani dirinya.

Dalam perangai raja, kesetiaan adalah syair yang tidak pernah jelas mula muasalnya. Seperti ujung samudera di tepi horison langit. Ia, kesetiaan itu, mungkin juga seperti sepotong roti dan secangkir teh panas ketika bangun terjada dari tidur, saat sendiri di suatu pulau di tengah samudera. Muncul tanpa kita sadari.

Tapi orang-orang yang berlutut di tepi permadani, dalam ketenangannya, orang-orang itu menyaksikan kesetiaan berhenti. Kesetiaan tidak seperti yang saya bayangkan, seperti istirahat atau berkhianat, tetapi yang ini berhenti. Seperti mahluk yang lamat-lamat mati kelapan, atau juga seperti jantung yang berhenti begitu saja, lalu hening.

Nah, dalam setiap syair kesetiaan, juga ada ketegangan yang hampa. Sebuah ketegangan yang bukan suatu dedikasi. Di dalamnya, ada deklarasi yang diperdengarkan di bawah awan hitam yang berpetir. Di dalamnya, tak ada bahaya yang harus dihitung dan dicemasi. Kehilangan dalam kesetiaan, telah terbiasa tidak diakui. Bahkan hingga tidak diketahui.

Kesetiaan yang dikuasai seorang raja, bukanlah gurun pasir yang tepiannya dibatasi dari rawa, atau dibatasi dari padang rumput. Batas yang memisahkannya adalah suatu nuansa, dimana tak ada batas yang tegas setipis kulit bawang yang mengiris warna putih dari hitam, atau mengiris warna hitam dari putih.

Tapi ingat, janji itu bukan beton yang tidak berpindah-pindah, alias kokoh. Bukan aksara yang terukir di atas permukaan batu granit. Janji bisa sebaliknya, seperti perahu yang tidak tertambat. Janji tidak mengontrol, dan lebih labil dari pada rekaman. Kesetiaan itu tumbuh dari janji-janji itu, yang umumnya tidak diucapkan dalam kebebasan.

Makanya, kesetiaan bukanlah beton. Bukan hal yang final, yang dengan mudah diasumsikan, atau disimpulkan peneliti. Kesetiaan itu adalah buku teks yang tidak mungkin bisa final.
Seorang yang hidup dengan janji, berarti dia hidup dalam kesetiaan. Pada gilirannya, saat janji itu terjawab, itu berarti hidup keluar dari kesetiaan. Sikap seseorang terhadap janji itulah yang mengukur sepanjang bagaimanakah suatu kesetiaan berumur.

Hidup dengan janji, berarti hidup dalam kesetiaan: dikuasai, melayani, dan bersumpah. Antara raja dan setia, ada kalimat yang tidak kuat. 


Makassar, 15 Desember 2014
Selengkapnya >>

Rabu, 25 Juni 2014

Nafsu Besar, Tenaga tidak Jelas

Saya dikejutkan oleh pertanyaan wartawan soal sesumbar Puan Maharani, puteri mahkota bu Megawati Soekarno Putri untuk pimpin PDI Perjuangan selanjutnya menggantikan ibunya. Si Puan sesumbar bakal tumbangkan dominasi Partai Golkar di Provinsi Sulawesi Selatan pada pemilu 2019. Dasar klaimnya adalah kepastian-kemenangannya capres/cawapres Jokowi-JK nanti di Pilpres 9Juli 2014. Waktu saya ditanyakan tentang itu, yang bisa saya katakan sebagai tanggapan adalah bahwa itu serupa dengan pameo yang mengatakan, "Nafsu besar, tapi tenaga kurang." 

Tapi whatever lah soal itu. Sesumbar si Puan itu, jg adalah tanda bahwa putri mahkota ini wawasannya tdk ada soal partai Golkar Sulawesi Selatan. BErikut ini adalah postingan twitter saya soal dialog di SUN TV Makassar beberapa wakitu yang lalu. 

Sumber;
http://chirpstory.com/li/215177
Selengkapnya >>

Jumat, 20 Juni 2014

Media dan Jurnalis Fanatik Jokowi-JK

Maqbul Halim

Ingin melihat media-media yang partisan saat laporkan hasil liputannya di Kampanye Prabowo Subianto di Makassar, Selasa, 17 Juni lalu? Usai kampanye itu, kita bisa temukan berita-berita media dalam tiga kategori; Pro Jokowi-JK, Anti Prabowo-Hatta, dan Netral.

Ada beberapa penggalan kata atau kalimat berita dari pidato Prabowo tersebut yang dapat menjadi petunjuk tentang fanatisme media dan jurnalis pada Pilpres 2014 ini. Penggalan ini sangat menentukan kemana affiliasi jurnalis, redaktur, pengamat atau media tersebut.

Dalam pidato yang berlangsung kurang lebih 26 menit tersebut, Prabowo menegaskan bahwa jika dirinya menjadi presiden, ia tidak ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang disuruh-suruh saja. Apalagi, katanya, menjadi pesuruh bangsa lain. Kita harus menjadi bangsa yang mandiri, bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri. Di sinilah Prabowo mengawali beberapa poin pidatonya yang kemudian dikontroversialkan oleh pewarta dan pengamat.

Pada intinya, Prabowo ingin menegaskan bahwa dirinya adalah orang Sulawesi. Mengapa perlu Prabowo tegaskan bahwa dirinya adalah orang Sulawesi? Baginya, Sulawesi itu banyak melahirkan pemimpin-pemimpin yang hebat. Ia mencontohkan Sultan Hasanuddin, Jenderal TNI M Jusuf, atau mantan presiden RI Prof BJ Habibie. Dengan demikian, Prabowo secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa dirinya juga punya potensi menjadi orang besar seperti mereka.

Lalu, apa buktinya bahwa Prabowo itu adalah orang Sulawesi? Atau Prabowo itu orang Indonesia Timur? Tentu saja, Prabowo pasti beberkan bahwa dalam dirinya juga ada darah orang Sulawesi. Yakni, Ibunya adalah orang Sulawesi Utara. Tidak cukup dengan itu, Prabowo pun menguraikan karakternya sebagai orang Sulawesi atau orang Indonesia Timur dalam berberapa sifat yang mungkin ia refleksikan dari dalam dirinya selama ini.

Keluarlah ciri-ciri watak orang Sulawesi atau Orang Indonesia Timur dalam pidatonya itu dalam formulasi sebagai berikut;
1. Orang Timur itu, cepat naik pitam, tapi cepat juga turun. Bagi yang jurnalis atau media yang anti Prabowo-Hatta dan Pro Jokowi-JK, maka tentu saja yang dipublis adalah kalimat "Orang Timur itu cepat naik pitam". Sementara kata "tapi cepat turun" itu tidak disertakan. Ucapan Prabowo adalah terformulasi dalam kalimat mejemuk, namun ketika diberitakan untuk kesan negatif bagi Prabowo-Hatta, maka kalimat majemuk itu dipermak menjadi kalimat tunggal dengan menghilangkan anak kalimatnya, yaitu "Cepat Turun". Hal yang negatif "Cepat Naik Pitam" inilah yang umumnya menjadi judul berita-berita pada media dan jurnalis pro Jokowi-JK dan anti Prabowo-Hatta.

2. "Orang Indonesia Timur itu, suka berlanglang buana. Suka merantau ke mana-mana." Kalimat ini sangat kurang disertakan dalam pemberitaan bagi media dan jurnalis yang anti Prabowo-Hatta dan pro Jokowi-JK. Tentu saja, karena pernyataan itu bermakna positif, yaitu menjunjung tinggi bagi Orang Sulawesi maupun orang Indonesia Timur.

3. Hal yang sama juga bisa kita lihat pada kalimat, "Orang Indonesia Timur, hatinya lurus. Kalau bicara, apa adanya." Kalimat ini juga sangat kurang diberitakan oleh jurnalis, pengamat dan media yang anti Prabowo-Hatta dan pro Jokowi-JK.

4. Kalimat "Tapi orang Indonesia Timur itu, suka, suka berkelahi." inilah yang paling banyak dikutip dan dijadikan judul oleh pengamat, jurnalis, dan media yang anti Prabowo-Hatta dan pro Jokowi-JK. Tentu saja, karena ini sangat bisa menyinggung perasaan orang Sulawesi dan orang Indonesia Timur dan lalu kemudian membenci Prabowo. Saat yang sama, mereka juga dengan KEBOHONGAN yang khidmat, menyembunyikan kalimat pelengkap-penjelas anak kalimat dari induk kalimat itu. Yakni, "Makanya cocok masuk tentara atau polisi. Atau pelaut." Bahkan dalam tubuh berita yang dimuat media kebanyakan sehari setelah kampanye itu, juga jarang mengutip kalimat penjelas itu.

5. "Orang Indonesia Timur itu, walaupun suka berantem, tapi orangnya setia, saudara2 sekalian." Kalimat ini juga dimutilasi sedemian rupa sehingga redaktur dan jurnalis, serta media yang anti Prabowo-Hatta dan pro Jokowi-JK hanya menghidangkan kalimat "suka berantem" dalam karya beritanya.

6. "Yang terakhir tahu apa? Orang Indonesia Timur itu makannya banyak sekali." Redaktur dan jurnalis, serta media yang anti Prabowo-Hatta dan pro Jokowi-JK mengulas secara licik kalimat ini sehingga dapat menimbulkan kesan negatif bahwa Prabowo sebut orang Sulawesi dan Indonesia Timur itu tamak. Dalam istilah Makassar disebut Balala yang dapat berarti apa pun dan semua dimakan. Dapat diduga seperti sebelumnya, mereka sembunyikan kalimat penjelas ini, "Makanya makanya pemimpin-pemimpin Indonesia harus mengurus pertanian, supaya rakyatnya cukup makan(annya)."

Berikut ini adalah diksi yang diterapkan media, redaktur dan jurnalis yang Anti Prabowo-Hatta dan Pro Jokowi-JK tentang sifat orang Sulawesi dan Orang Indonesia Timur:
1. Cepat naik pitam.
2. Suka berkelahi.
3. Suka berantem.
4. Makannya banyak sekali.

Selanjutnya, media, jurnalis, redaktur yang pro Prabowo-Hatta (Tapi tidak anti Jokowi-JK lho), menerapkan kata-kata (diksi) majemuk berikut ini tentang sifat dan karakter orang Sulawesi dan Orang Indonesia Timur:
-----------
1. Kalau naik pitam, cepat juga turun.
2. Suka berlanglang buana. Suka merantau ke mana-mana.
3. Hatinya lurus. Kalau bicara, apa adanya.
4. Kadang-kadang dianggap terlalu keras.
5. Cocok masuk tentara atau polisi.
6. Cocok jadi pelaut.
7. Orangnya setia.

Yang terakhir, diksi atau kalimat yang menjadi preferensi jurnalis, redaktur dan media yang netral tentang ciri dan karakter orang Sulawesi dan Indonesia Timur sebagaimana disebutkan oleh Prabowo adalah sebagai berikut:
1. Cepat naik pitam tapi cepat juga turun.
2. Suka berlanglang buana. Suka merantau ke mana-mana.
3. Senang pesta.
4. Hatinya lurus, kalau bicara, apa adanya. Kadang-kadang dianggap terlalu keras.
5. Suka berkelahi, makanya cocok masuk tentara atau polisi, atau Pelaut.
6. Walaupun suka berantem, tapi orangnya setia.
7. Makannya banyak sekali. Makanya pemimpin-pemimpin Indonesia harus mengurus pertanian, supaya rakyatnya cukup (banyak) makan.

Setelah pengkasifikasian tiga sikap jurnalis, pengamat, redaktur dan media massa di atas, sekarang anda sudah mempunyai kerangka untuk menilai berita, pendapat, opini yang telah anda baca dan simak selama ini. Preferensi kata dan kalimat dari pidato Prabowo tersebut dengan sendirinya secara tanpa sadar (indoktrinasi) menunjukkan dimana anda berada:
a. Anti Prabowo-Hatta dan Pro Jokowi-JK --UNFAVOURABLE
b. Pro Prabowo-Hatta (dan mungkin Anti Jokowi-JK) -- FAVOURABLE
c. Netral --NETRAL

Saya juga tidak lupa bahwa semua ciri dan karakter orang Sulawesi dan Indonesia Timur yang dibeberkan Prabowo itu diakui oleh audiens yang hadir di stadion. Audiens membenarkan dengan suara persetujuan yang kompak.

Ini adalah transkrip bagian pidato Prabowo yang banyak dibuat bias oleh mayoritas media, terutama media lokal Sulawesi Selatan yang harus pro Jokowi-JK.

Menit
[11:08]
Kita sebagai bangsa, kita membeli setiap tahun 1 juta mobil.
Tiap tahun, tapi belum ada mobil buatan Indonesia.

Kami bertekad apabila kami diberi amanat, diberi mandat oleh rakyat Indonesia...
[11:32]
Kami akan membuat mobil buatan Indonesia, saudara2...
Kami akan membuat pesawat terbang buatan Indonesia, saudara2....
Kami akan membuat motor buatan Indonesia, saudara2....
Kapal-kapal laut buatan Indonesia
Kereta-kereta api buatan Indonesia, saudara2 sekalian....
[12:01]
Kita tidak mau jadi bangsa pesuruh. Apalagi pesuruhnya orang lain, saudara2 sekalian.....
Kita harus menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri, saudara2 sekalian.....
Dan kita harus percaya bahwa kita mampu, saudara2 sekalian....
Bangsa kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang melahirkan pemimpin-pemimpin yang besar, saudara2 sekalian.
[12:34]
Dan Sulawesi telah melahirkan banyak pemimpin2 yang hebat2 saudara2 sekalian.
Kita mengenal Sultan Hasanuddin.
Kita juga mengenal Jenderal Andi Muhammad Jusuf, saudara2 sekalian.
Kita juga pernah melihat putra Sulawesi Selatan Profesor BJ Habibie menjadi presiden Republik Indonesia.
[13:09]
Dan, saudara2 sekalian, saya juga ada darah Sulawesi.

Ibu saya berada, berasal dari Sulawesi Utara, saudara2 sekalian.
Jadi, saya juga ini orang Sulawesi, saudara2 sekalian.
Saya juga ini orang Indonesia Timur.
Jadi, saya mengerti bagaimana kesulitan, bagaimana wataknya orang Indonesia Timur.

Betul? Betul? (Audiens menjawab, betul?
[13:48]
Mau dengar sifat-sifat orang Indonesia Timur?
Mau? Mau? Mau? (Tanya ke audien, dan audien menjawab mau)

Orang Indonesia Timur itu cepat naik pitam. Betul?Tapi cepat juga turun.

Orang Indonesia Timur itu, suka berlanglang buana. Suka merantau ke mana-mana.
Betul? (Jawab audiens: betul)

Orang Indonesia Timur juga senang pesta.
Betul? (Jawab audiens: betul)

Orang Indonesia Timur, hatinya lurus. Kalau bicara, apa adanya.
Betul? (Jawab audiens: betul)

Kadang-kadang dianggap terlalu keras.
Betul? (Jawab audiens: betul)
[14:45]
Tapi orang Indonesia Timur itu, suka, suka berkelahi.
Betul? (Jawab audiens: betul)
Makanya cocok masuk tentara atau polisi.
Betul? (Jawab audiens: betul)

Atau jadi pelaut.
Betul? (Jawab audiens: betul)

Orang Indonesia Timur, juga
[15:18]
Orang Indonesia Timur itu, walaupun suka berantem, tapi orangnya setia, saudara2 sekalian.
Betul? (Jawab audiens: betul)
[15:30]
Yang terakhir tahu apa? Orang Indonesia Timur itu makannya banyak sekali.
Betul? Betul? Betul? (Jawab audiens: betul)

Makannya banyak, saudara2 sekalian. Makanya makanya pemimpin-pemimpin Indonesia harus mengurus pertanian, supaya rakyatnya cukup makan.
[16:06]
Bangsa kita ini begini besar, begini kaya, selalu jadi sasaran. Itu (burung) Rajawali ya?......

Sumber Pidato Prabowo:
http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=pZJ21uyhyKQ

Makassar, 19 Juni 2014
Selengkapnya >>

Kamis, 12 Juni 2014

Pilih Prabowo-Hatta Karena Itu Mauku

Jika saya orang Sulsel, atau saya orang Bugis-Makassar, haruskah saya pilih orang Bugis-Makassar pada Pilpres 2014 ini? Tentu tidak harus. Kenapa tentu tidak? Karena saya sudah pernah mendapatkan pendidikan formal dan informal. Saya pernah dididik di SD, SMP, SMU/SMA, dan perguruan tinggi. 

Sepanjang masa itu, horison berpikir saya melebar seluas-luasnya. Tidak sempit. Tidak picik. Intelektualitas saya kuat, sehingga tidak tunduk pada mental-mental yang kedaerahan. Mental primordial, suatu kondisi yang segala urusan berangkat dan demi rasa kedaerahan. Horison berpikir seperti itu menjadi sempit, sesempit daerah asal, sesempit segala hal yang ada di dalamnya. 

Jika saya bermental primordial seperti itu, untuk apa saya menyusahkan orang tua saya menyekolahkan diriku hingga di perguruan tinggi? Saya sudah banyak tertawa melihat orang-orang sekolahan yang sarjana, doktor, master, profesor di Sulawesi Selatan, tapi bermental primordial. 

Contoh yang paling lugu adalah Forum Dosen di Makassar yang tidak ragu bertindak primordial dalam Pilpres 2014 kali ini. Mereka-mereka itu butuh peristiwa yang mungkin disebut Revolusi Mental. 

Lima tahun silam, saat Pilpres 2009, Saya sangat primordial menentukan pilihan capres. Saya pilih Jusuf Kalla yang berpasangan dengan Wiranto. Itu masa kelam dan memalukan dalam jejak-jejak intelektualitasku. Sekarang, saya kembali sadari betapa pentingnya orang-orang bersekolah dan kemudian terdidik. Hasil, mental primordial itu berkurang drastis. 

Makassar, 12 Juni 2014

 

Selengkapnya >>

Rabu, 11 Juni 2014

Kebaikan Rusak Kebaikan

Dimana lagi saya mengakhiri kebimbangan ini,
jika malaikat dan malaikat lainnya saling merusak

Para pendakwah berlari menjauh dari Kitab,
menebas seolah inkuisitor yang hanya tahu satu ayat.

Mereka tidak kenal Tuhan.
Tapi mereka begitu detil kenal musuh-musuh Tuhan.
Para pendosa membagi diri, seperti Amoeba membelah diri.

Padahal keduanya berangkat dari tempat,
dimana iblis dan malaikat
digerakkan oleh tujuan yang sama.
Suatu tujuan yg tdk pernah disusun dlm kejujuran.
Tapi selalu disebut, bahwa tujuan itulah kejujuran itu sendiri.

Malaikat yang satu jelaskan hal yg tidak mungkin jelas.
Malaikat saingan buat jadi tidak jelas dari hal yang sdh pasti jelas.

Di ujung waktu yang hanya semenit,
jutaan dosa dan aib harus diketik.
Setelah itu, tinggal Tuhan yang ENTER.

Gaduh.
Tapi itulah teater.
Tuhan, Malaikat, Pendosa, Penjahat.
Semua tenang berada dlm satu naskah.

Ada orang baik, lengkap dg maksud baiknya.
Tapi lupa bahwa dalam sandiwara, kebaikan itu ada batasnya.
Katamu, kata kalian:
kita baik,
kita tulus,
kita dari hati.

Itu di Panggung.

Di kamar ganti:
kita itu bohong,
kita tipu mereka,
kita itu pura-pura,
kita lupa/kan.

Suatu waktu,
kebimbangan ini akan pecah
dilumat ombak pd terumbu karang,
setelah tak sempat terjawab.

Mungkin, suatu waktu.

Makassar, 11 Juni 2014.
Maqbul Halim
Selengkapnya >>

Jumat, 06 Juni 2014

Di Twitter, Jubir Golkar Sulsel Sebut Kopel Sulawesi Pecundang

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Juru bicara (jubir) Golkar Sulsel, Maqbul Halim, melancarkan kritikan kepada Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Indonesia. Kritik Maqbul, disampaikannya melalui akun twitter-nya beralamar @maqbulhalim.

Kritik Maqbul disampaikan dalam delapan tweet yang menggunakan hashtag (tanda pagar) #Kopel_Sulawesi. Di tweet pertamanya, Maqbul mengkritik Kopel Sulawesi dengan menyebut Kopel sebagai LSM partisan.

“Kopel Sulawesi, LSM partisan, mulai persoalkan proyek CPI di Sulsel. Apa lg agenda politik LSM ini? #Kopel_Sulawesi” tulis Maqbul dalam akunnya.

Maqbul juga mengkritik Kopel Sulawesi yang tidak pernah mengungkit kasus PDAM Makassar. “Katanya melakukan investigasi di proyek CPI! Tp 6 thn data kerugian negara di PDAM Makassar, tdk pernah diinvestigasi. #Kopel_Sulawesi” tulisnya.

“@maqbulhalim: Ada hubungan apa antara PDAM Makassar & Kopel Sulawesi shg lsm partisan ini tdk investigasi PDAM Mks? #Kopel_Sulawesi” tulis Maqbul berikutnya.

Bekas komisioner KPU Makassar ini, bahkan menyebutkan kemungkinan adanya hubungan transaksional sehingga hal tersebut tidak terungkap. “Hubungan transaksional kah? Hubungan budi baik kah? #Kopel_Sulawesi” tulisnya.

Padahal, menurut Maqbul, DPRD Makassar sudah pernah mengeluarkan rekomendasi agar PDAM Makassar menghentikan kerjasamanya yg rugikan negara. “Kopel Sulsel tahu rekomendasi itu, tp Kopel tutup mata-telinga. #Kopel_Sulawesi” tulisnya.

Di akhir rangkaian tweet berhashtag #Kopel_Sulawesi, Maqbul menuliskan. “Tak ada sikap kopel sejauh itu. Jadi sudahlah. Sekali lancung ke ujian, selamanya jd pecundang. #Kopel_Sulawesi” tulis Maqbul.

Hingga berita ini diturunkan tidak ada tanggapan dari para pengurus Kopel Sulawesi.


Sumber : http://rakyatsulsel.com/di-twitter-jubir-golkar-sulsel-sebut-kopel-sulawesi-pecundang.html
Selengkapnya >>

Minggu, 25 Mei 2014

Berita Bias Atas Keterangan Saya



Ini adalah percakapan saya dengan Ilham, reporter/editor @tribuntimur tentang posisi @syahrul_yl dalam struktur Tim Pemenangan Kandidat PRABOWO-HATTA di Sulawesi Selatan. 

Percakapan melalui BlackBerry Messager ini berlangsung 25 Mei, siang, 14.15-14.51. Namun saat diberitakan dengan judul "Gubernur Syahrul Disebut Pimpin Tim Prabowo-Hatta di Sulsel" mengalami bias negatif. 

http://makassar.tribunnews.com/2014/05/25/akhirnya-gubernur-syahrul-pimpin-tim-pemenangan-prabowo-hatta-di-sulsel

MH Maqbul Halim: PING!!!
Ilham (ilo) Mangenre: Iye puang andi
MH Maqbul Halim: Ada ji ternyata
MH Maqbul Halim: Pin BlackBerry ta di bbku
Ilham (ilo) Mangenre: Hahahaha,,iyaro kasi
MH Maqbul Halim: Ubaca sms ta denre
Ilham (ilo) Mangenre: Iyaro puang andi
Ilham (ilo) Mangenre: Parellu ibalas yolo
Ilham (ilo) Mangenre: Makkeda pikkogiro kesiapanta
MH Maqbul Halim: Aga yaseng kesiapan? =-D
Ilham (ilo) Mangenre: KesiapanG memenangkan parabowo-hatta rajasa puang andi=))
MH Maqbul Halim: Yaaa, tentu siap kan
Ilham (ilo) Mangenre: Bueh,,jadi tim sudah disiapkan ini puang Andi?
Ilham (ilo) Mangenre: Hahaha
MH Maqbul Halim: Contoh, Golkar Sulsel sdh buat rapat yg hasilnya rekomendasikan 12 org bergabung di TENDA BESAR Koalisi Merah Putih PRABOWO HATTA
MH Maqbul Halim: Selain itu, Golkar Sulsel sendiri buat Tim TENDA KUNING
Ilham (ilo) Mangenre: MasyaAllah
Ilham (ilo) Mangenre: Jadii Pak Ketua SYL tetap dukung Prabowo-Hatta puang andi?=D
Ilham (ilo) Mangenre: Mantap sekali puang nadi
Ilham (ilo) Mangenre: Puang Andi
MH Maqbul Halim: Pak Syahrul kendalikan langsung Tim TENDA KUNING
Ilham (ilo) Mangenre: Mantap puang Andi
MH Maqbul Halim: Siap deng Andi
Ilham (ilo) Mangenre: Hahaahaha ba Deng Andi
Ilham (ilo) Mangenre: Hahahaha

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the XL network.

Selengkapnya >>

Minggu, 20 April 2014

Anak Panah Jatuh di Sungai










Mereka itu anak panah
Jika belantara perang sedang diam
mereka dionggok di kantong anak panah
Tidak berbahaya, tidak menakutkan
Bisa dipatahkan
Bisa disimpan saat empunya sedang sibuk di ranjang

Dalam suatu pesta malam, dan yang berbahaya sedang tenang, diam
Tak ada tentara yang memeriksa anak panahnya
Tapi di pinggangnya tetap terselip bilah pedang

Anak panah tidak pernah kembali ke busurnya
Sekali itulah mereka diluncurkan menukik pergi
Mendesis menembus angin melumat bentang
Menghajar, menubruk, menembus
Juga meleset, melenceng ditelan gravitasi, mungkin jatuh di sungai
Hanyut entah kemana dalam gelap malam
Setelah itu, mereka mungkin terbuang dalam waktu
Mereka entah dimana, ketika roti dan anggur sedang dibagikan di bawah tenda perang

Saat perang menisbahkan pemenang,
saat burung nazar berpesta di atas bangkai manusia,
Kavaleri pulang dengan kudanya
Infantri pulang dengan tombak dan pedangnya
Artileri pulang dengan meriamnya
Pemanah pulang dengan busurnya

Busur yang telah dilepas, tak dibawah pulang
Mereka bersama dengan tentara yang meregang sakit,
Mereka dibakar, dikubur massal bersama mayat-mayat
Mereka tidak dirawat seperti pedang, tombak, dan busur
Tidak juga sebagai pemantik dalam kisah sukses perang
Mereka tidak dicemaskan oleh majikan yang soleh, penglima yang adil, raja yang bijak

Mereka itu anak panah, bukan pedang. Bukan tombak.
Hubungan antara anak panah dan pemanah, berakhir saat anak panah dilepas dari busur
Itu pun tak ada garis yang tetap dan pasti.

Makassar, 20 April 2014
Selengkapnya >>

Sabtu, 05 April 2014

Memang Enak Pilih Maqbul Halim

Maqbul Halim, atau MH, mungkin bisa disebut orang yang ada apanya, sekaligus juga apa adanya. Dia bukan orang idealis, bukan juga orang yang betul-betul jahat. Yang pasti, dia adalah orang calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar (5) untuk DPRD Sulsel, dapil Sulsel2 nomor urut 5.

Tidak banyak yang bisa diharapkan dari Alumni Komunikasi Universitas Hasanuddin 1999 ini. Tapi, dia bisa memberi harapan. Juga, dia bukan alat pemuas orang banyak, tapi bisa memberi kepuasan.

Di DPD Golkar Sulsel, Maqbul juga bukan orang yang sangat penting, atau penting. Yang mungkin paling betul adalah, bisa jadi justru mementingkan diri, bukannya orang penting. Kalau Makcbulatov, nama rusak Maqbul Halim saat masih aktif kuliah di Kampus Merah Unhas Tamalanrea, adalah seorang calon legislatif, tentu kita bertanya, apa enaknya memilih Maqbul Halim?

Pertama, Maqbul itu murah senyum. Senyumnya sangat melimpah saat-saat seperti sekarang ini, saat pen-caleg-annya sedang membara. Semoga dia tidak terus-terusan tersenyum, sekalipun sudah lewat tanggal 9 April 2014 nanti, atau saat ia menyendiri tapi masih tetap tersenyum.

Kedua, Maqbul itu selalu berusaha rapi dan teratur. Lihat sendirilah orangnya, jika anda punya kesempatan. Ia kerap terlihat kacau, juga tidak beraturan. Nah, saat ia kacau, tidak teratur, itulah saat yang berkesan bergabung bersama Maqbul.

Ketiga, bagi Maqbul, semua orang yang ada di hadapannya diperlakukan sebagai bangsawan. Ia sudah fasih memanggil semua orang yang dikenalnya dengan sapaan gelar bangsawan Bugis, ANDI. "Bagamana kabar Bu Andi?" atau "Dari mana Pak Andi?" adalah sapaan renyah yang mudah meluncur dari mulut ayah empat anak ini. Nah, Anda yang ingin diakui sebagai bangsawan, bergabunglah bersama Maqbul, Anda menjadi bangsawan tanpa biaya.

Keempat, Maqbul itu orangnya kerap tidak logis, dan akhirnya menjadi lucu. Ia bisa melucu pada saat-saat tertentu. Tetapi yang kerap terlihat, Maqbul justru lebih banyak terlihat lucu dari pada melucu. Andaikan Maqbul tidak sarjana, dia sebaiknya adalah seorang pelawak. Meski disayangkan, wajahnya sudah lewat usia untuk dilawaki.

Kelima, entah apa saya mau bilang apa lagi.

Keenam, sudah dulu ya.

Ketujuh, wassalam

(anonymous)
Selengkapnya >>

Rabu, 05 Maret 2014

Kata Syahrul tentang Maqbul Halim

Komandan @syahrul_yl : "Apa yang anda ragukan dari caleg-caleg Partai Golkar? Maqbul Halim itu juru bicara saya. Dia mantan anggota KPU Kota Makassar. Jadi, anda tidak salah pilih." Keterangan Syahrul YL saat sosialisasikan saya di Warkop HOT Tamalanrea, Senin, 24 Februari 2014.








Selengkapnya >>

Jumat, 07 Februari 2014

Rehat Saat Rakorda BKPP GOLKAR SULSEL


Makassar- Maqbul Halim berbincang bersama Hj Tenri Olle YL dan H Jushar Khuduri saat rapat koordinasi daerah BKPP (Badan Koordinasi Pemenangan Pemilu) di Kantor Golkar Sulsel Jln Amanagappa Makassar. 

Maqbul Halim adalah caleg DPRD SULSEL Dapil Sulsel 2 (Makassar B), Hj Tenri Olle YL dari Dapil Sulsel 3 (Kab Gowa dan Takalar), dan Jushar dari Dapil Sulsel 6 (Kab Bone). 

@emhateam
Selengkapnya >>