SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG
Don't Stop Komandan

Rabu, 25 Juni 2014

Nafsu Besar, Tenaga tidak Jelas

Saya dikejutkan oleh pertanyaan wartawan soal sesumbar Puan Maharani, puteri mahkota bu Megawati Soekarno Putri untuk pimpin PDI Perjuangan selanjutnya menggantikan ibunya. Si Puan sesumbar bakal tumbangkan dominasi Partai Golkar di Provinsi Sulawesi Selatan pada pemilu 2019. Dasar klaimnya adalah kepastian-kemenangannya capres/cawapres Jokowi-JK nanti di Pilpres 9Juli 2014. Waktu saya ditanyakan tentang itu, yang bisa saya katakan sebagai tanggapan adalah bahwa itu serupa dengan pameo yang mengatakan, "Nafsu besar, tapi tenaga kurang." 

Tapi whatever lah soal itu. Sesumbar si Puan itu, jg adalah tanda bahwa putri mahkota ini wawasannya tdk ada soal partai Golkar Sulawesi Selatan. BErikut ini adalah postingan twitter saya soal dialog di SUN TV Makassar beberapa wakitu yang lalu. 

Sumber;
http://chirpstory.com/li/215177
Selengkapnya >>

Jumat, 20 Juni 2014

Media dan Jurnalis Fanatik Jokowi-JK

Maqbul Halim

Ingin melihat media-media yang partisan saat laporkan hasil liputannya di Kampanye Prabowo Subianto di Makassar, Selasa, 17 Juni lalu? Usai kampanye itu, kita bisa temukan berita-berita media dalam tiga kategori; Pro Jokowi-JK, Anti Prabowo-Hatta, dan Netral.

Ada beberapa penggalan kata atau kalimat berita dari pidato Prabowo tersebut yang dapat menjadi petunjuk tentang fanatisme media dan jurnalis pada Pilpres 2014 ini. Penggalan ini sangat menentukan kemana affiliasi jurnalis, redaktur, pengamat atau media tersebut.

Dalam pidato yang berlangsung kurang lebih 26 menit tersebut, Prabowo menegaskan bahwa jika dirinya menjadi presiden, ia tidak ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang disuruh-suruh saja. Apalagi, katanya, menjadi pesuruh bangsa lain. Kita harus menjadi bangsa yang mandiri, bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri. Di sinilah Prabowo mengawali beberapa poin pidatonya yang kemudian dikontroversialkan oleh pewarta dan pengamat.

Pada intinya, Prabowo ingin menegaskan bahwa dirinya adalah orang Sulawesi. Mengapa perlu Prabowo tegaskan bahwa dirinya adalah orang Sulawesi? Baginya, Sulawesi itu banyak melahirkan pemimpin-pemimpin yang hebat. Ia mencontohkan Sultan Hasanuddin, Jenderal TNI M Jusuf, atau mantan presiden RI Prof BJ Habibie. Dengan demikian, Prabowo secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa dirinya juga punya potensi menjadi orang besar seperti mereka.

Lalu, apa buktinya bahwa Prabowo itu adalah orang Sulawesi? Atau Prabowo itu orang Indonesia Timur? Tentu saja, Prabowo pasti beberkan bahwa dalam dirinya juga ada darah orang Sulawesi. Yakni, Ibunya adalah orang Sulawesi Utara. Tidak cukup dengan itu, Prabowo pun menguraikan karakternya sebagai orang Sulawesi atau orang Indonesia Timur dalam berberapa sifat yang mungkin ia refleksikan dari dalam dirinya selama ini.

Keluarlah ciri-ciri watak orang Sulawesi atau Orang Indonesia Timur dalam pidatonya itu dalam formulasi sebagai berikut;
1. Orang Timur itu, cepat naik pitam, tapi cepat juga turun. Bagi yang jurnalis atau media yang anti Prabowo-Hatta dan Pro Jokowi-JK, maka tentu saja yang dipublis adalah kalimat "Orang Timur itu cepat naik pitam". Sementara kata "tapi cepat turun" itu tidak disertakan. Ucapan Prabowo adalah terformulasi dalam kalimat mejemuk, namun ketika diberitakan untuk kesan negatif bagi Prabowo-Hatta, maka kalimat majemuk itu dipermak menjadi kalimat tunggal dengan menghilangkan anak kalimatnya, yaitu "Cepat Turun". Hal yang negatif "Cepat Naik Pitam" inilah yang umumnya menjadi judul berita-berita pada media dan jurnalis pro Jokowi-JK dan anti Prabowo-Hatta.

2. "Orang Indonesia Timur itu, suka berlanglang buana. Suka merantau ke mana-mana." Kalimat ini sangat kurang disertakan dalam pemberitaan bagi media dan jurnalis yang anti Prabowo-Hatta dan pro Jokowi-JK. Tentu saja, karena pernyataan itu bermakna positif, yaitu menjunjung tinggi bagi Orang Sulawesi maupun orang Indonesia Timur.

3. Hal yang sama juga bisa kita lihat pada kalimat, "Orang Indonesia Timur, hatinya lurus. Kalau bicara, apa adanya." Kalimat ini juga sangat kurang diberitakan oleh jurnalis, pengamat dan media yang anti Prabowo-Hatta dan pro Jokowi-JK.

4. Kalimat "Tapi orang Indonesia Timur itu, suka, suka berkelahi." inilah yang paling banyak dikutip dan dijadikan judul oleh pengamat, jurnalis, dan media yang anti Prabowo-Hatta dan pro Jokowi-JK. Tentu saja, karena ini sangat bisa menyinggung perasaan orang Sulawesi dan orang Indonesia Timur dan lalu kemudian membenci Prabowo. Saat yang sama, mereka juga dengan KEBOHONGAN yang khidmat, menyembunyikan kalimat pelengkap-penjelas anak kalimat dari induk kalimat itu. Yakni, "Makanya cocok masuk tentara atau polisi. Atau pelaut." Bahkan dalam tubuh berita yang dimuat media kebanyakan sehari setelah kampanye itu, juga jarang mengutip kalimat penjelas itu.

5. "Orang Indonesia Timur itu, walaupun suka berantem, tapi orangnya setia, saudara2 sekalian." Kalimat ini juga dimutilasi sedemian rupa sehingga redaktur dan jurnalis, serta media yang anti Prabowo-Hatta dan pro Jokowi-JK hanya menghidangkan kalimat "suka berantem" dalam karya beritanya.

6. "Yang terakhir tahu apa? Orang Indonesia Timur itu makannya banyak sekali." Redaktur dan jurnalis, serta media yang anti Prabowo-Hatta dan pro Jokowi-JK mengulas secara licik kalimat ini sehingga dapat menimbulkan kesan negatif bahwa Prabowo sebut orang Sulawesi dan Indonesia Timur itu tamak. Dalam istilah Makassar disebut Balala yang dapat berarti apa pun dan semua dimakan. Dapat diduga seperti sebelumnya, mereka sembunyikan kalimat penjelas ini, "Makanya makanya pemimpin-pemimpin Indonesia harus mengurus pertanian, supaya rakyatnya cukup makan(annya)."

Berikut ini adalah diksi yang diterapkan media, redaktur dan jurnalis yang Anti Prabowo-Hatta dan Pro Jokowi-JK tentang sifat orang Sulawesi dan Orang Indonesia Timur:
1. Cepat naik pitam.
2. Suka berkelahi.
3. Suka berantem.
4. Makannya banyak sekali.

Selanjutnya, media, jurnalis, redaktur yang pro Prabowo-Hatta (Tapi tidak anti Jokowi-JK lho), menerapkan kata-kata (diksi) majemuk berikut ini tentang sifat dan karakter orang Sulawesi dan Orang Indonesia Timur:
-----------
1. Kalau naik pitam, cepat juga turun.
2. Suka berlanglang buana. Suka merantau ke mana-mana.
3. Hatinya lurus. Kalau bicara, apa adanya.
4. Kadang-kadang dianggap terlalu keras.
5. Cocok masuk tentara atau polisi.
6. Cocok jadi pelaut.
7. Orangnya setia.

Yang terakhir, diksi atau kalimat yang menjadi preferensi jurnalis, redaktur dan media yang netral tentang ciri dan karakter orang Sulawesi dan Indonesia Timur sebagaimana disebutkan oleh Prabowo adalah sebagai berikut:
1. Cepat naik pitam tapi cepat juga turun.
2. Suka berlanglang buana. Suka merantau ke mana-mana.
3. Senang pesta.
4. Hatinya lurus, kalau bicara, apa adanya. Kadang-kadang dianggap terlalu keras.
5. Suka berkelahi, makanya cocok masuk tentara atau polisi, atau Pelaut.
6. Walaupun suka berantem, tapi orangnya setia.
7. Makannya banyak sekali. Makanya pemimpin-pemimpin Indonesia harus mengurus pertanian, supaya rakyatnya cukup (banyak) makan.

Setelah pengkasifikasian tiga sikap jurnalis, pengamat, redaktur dan media massa di atas, sekarang anda sudah mempunyai kerangka untuk menilai berita, pendapat, opini yang telah anda baca dan simak selama ini. Preferensi kata dan kalimat dari pidato Prabowo tersebut dengan sendirinya secara tanpa sadar (indoktrinasi) menunjukkan dimana anda berada:
a. Anti Prabowo-Hatta dan Pro Jokowi-JK --UNFAVOURABLE
b. Pro Prabowo-Hatta (dan mungkin Anti Jokowi-JK) -- FAVOURABLE
c. Netral --NETRAL

Saya juga tidak lupa bahwa semua ciri dan karakter orang Sulawesi dan Indonesia Timur yang dibeberkan Prabowo itu diakui oleh audiens yang hadir di stadion. Audiens membenarkan dengan suara persetujuan yang kompak.

Ini adalah transkrip bagian pidato Prabowo yang banyak dibuat bias oleh mayoritas media, terutama media lokal Sulawesi Selatan yang harus pro Jokowi-JK.

Menit
[11:08]
Kita sebagai bangsa, kita membeli setiap tahun 1 juta mobil.
Tiap tahun, tapi belum ada mobil buatan Indonesia.

Kami bertekad apabila kami diberi amanat, diberi mandat oleh rakyat Indonesia...
[11:32]
Kami akan membuat mobil buatan Indonesia, saudara2...
Kami akan membuat pesawat terbang buatan Indonesia, saudara2....
Kami akan membuat motor buatan Indonesia, saudara2....
Kapal-kapal laut buatan Indonesia
Kereta-kereta api buatan Indonesia, saudara2 sekalian....
[12:01]
Kita tidak mau jadi bangsa pesuruh. Apalagi pesuruhnya orang lain, saudara2 sekalian.....
Kita harus menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki kita sendiri, saudara2 sekalian.....
Dan kita harus percaya bahwa kita mampu, saudara2 sekalian....
Bangsa kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang melahirkan pemimpin-pemimpin yang besar, saudara2 sekalian.
[12:34]
Dan Sulawesi telah melahirkan banyak pemimpin2 yang hebat2 saudara2 sekalian.
Kita mengenal Sultan Hasanuddin.
Kita juga mengenal Jenderal Andi Muhammad Jusuf, saudara2 sekalian.
Kita juga pernah melihat putra Sulawesi Selatan Profesor BJ Habibie menjadi presiden Republik Indonesia.
[13:09]
Dan, saudara2 sekalian, saya juga ada darah Sulawesi.

Ibu saya berada, berasal dari Sulawesi Utara, saudara2 sekalian.
Jadi, saya juga ini orang Sulawesi, saudara2 sekalian.
Saya juga ini orang Indonesia Timur.
Jadi, saya mengerti bagaimana kesulitan, bagaimana wataknya orang Indonesia Timur.

Betul? Betul? (Audiens menjawab, betul?
[13:48]
Mau dengar sifat-sifat orang Indonesia Timur?
Mau? Mau? Mau? (Tanya ke audien, dan audien menjawab mau)

Orang Indonesia Timur itu cepat naik pitam. Betul?Tapi cepat juga turun.

Orang Indonesia Timur itu, suka berlanglang buana. Suka merantau ke mana-mana.
Betul? (Jawab audiens: betul)

Orang Indonesia Timur juga senang pesta.
Betul? (Jawab audiens: betul)

Orang Indonesia Timur, hatinya lurus. Kalau bicara, apa adanya.
Betul? (Jawab audiens: betul)

Kadang-kadang dianggap terlalu keras.
Betul? (Jawab audiens: betul)
[14:45]
Tapi orang Indonesia Timur itu, suka, suka berkelahi.
Betul? (Jawab audiens: betul)
Makanya cocok masuk tentara atau polisi.
Betul? (Jawab audiens: betul)

Atau jadi pelaut.
Betul? (Jawab audiens: betul)

Orang Indonesia Timur, juga
[15:18]
Orang Indonesia Timur itu, walaupun suka berantem, tapi orangnya setia, saudara2 sekalian.
Betul? (Jawab audiens: betul)
[15:30]
Yang terakhir tahu apa? Orang Indonesia Timur itu makannya banyak sekali.
Betul? Betul? Betul? (Jawab audiens: betul)

Makannya banyak, saudara2 sekalian. Makanya makanya pemimpin-pemimpin Indonesia harus mengurus pertanian, supaya rakyatnya cukup makan.
[16:06]
Bangsa kita ini begini besar, begini kaya, selalu jadi sasaran. Itu (burung) Rajawali ya?......

Sumber Pidato Prabowo:
http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=pZJ21uyhyKQ

Makassar, 19 Juni 2014
Selengkapnya >>

Kamis, 12 Juni 2014

Pilih Prabowo-Hatta Karena Itu Mauku

Jika saya orang Sulsel, atau saya orang Bugis-Makassar, haruskah saya pilih orang Bugis-Makassar pada Pilpres 2014 ini? Tentu tidak harus. Kenapa tentu tidak? Karena saya sudah pernah mendapatkan pendidikan formal dan informal. Saya pernah dididik di SD, SMP, SMU/SMA, dan perguruan tinggi. 

Sepanjang masa itu, horison berpikir saya melebar seluas-luasnya. Tidak sempit. Tidak picik. Intelektualitas saya kuat, sehingga tidak tunduk pada mental-mental yang kedaerahan. Mental primordial, suatu kondisi yang segala urusan berangkat dan demi rasa kedaerahan. Horison berpikir seperti itu menjadi sempit, sesempit daerah asal, sesempit segala hal yang ada di dalamnya. 

Jika saya bermental primordial seperti itu, untuk apa saya menyusahkan orang tua saya menyekolahkan diriku hingga di perguruan tinggi? Saya sudah banyak tertawa melihat orang-orang sekolahan yang sarjana, doktor, master, profesor di Sulawesi Selatan, tapi bermental primordial. 

Contoh yang paling lugu adalah Forum Dosen di Makassar yang tidak ragu bertindak primordial dalam Pilpres 2014 kali ini. Mereka-mereka itu butuh peristiwa yang mungkin disebut Revolusi Mental. 

Lima tahun silam, saat Pilpres 2009, Saya sangat primordial menentukan pilihan capres. Saya pilih Jusuf Kalla yang berpasangan dengan Wiranto. Itu masa kelam dan memalukan dalam jejak-jejak intelektualitasku. Sekarang, saya kembali sadari betapa pentingnya orang-orang bersekolah dan kemudian terdidik. Hasil, mental primordial itu berkurang drastis. 

Makassar, 12 Juni 2014

 

Selengkapnya >>

Rabu, 11 Juni 2014

Kebaikan Rusak Kebaikan

Dimana lagi saya mengakhiri kebimbangan ini,
jika malaikat dan malaikat lainnya saling merusak

Para pendakwah berlari menjauh dari Kitab,
menebas seolah inkuisitor yang hanya tahu satu ayat.

Mereka tidak kenal Tuhan.
Tapi mereka begitu detil kenal musuh-musuh Tuhan.
Para pendosa membagi diri, seperti Amoeba membelah diri.

Padahal keduanya berangkat dari tempat,
dimana iblis dan malaikat
digerakkan oleh tujuan yang sama.
Suatu tujuan yg tdk pernah disusun dlm kejujuran.
Tapi selalu disebut, bahwa tujuan itulah kejujuran itu sendiri.

Malaikat yang satu jelaskan hal yg tidak mungkin jelas.
Malaikat saingan buat jadi tidak jelas dari hal yang sdh pasti jelas.

Di ujung waktu yang hanya semenit,
jutaan dosa dan aib harus diketik.
Setelah itu, tinggal Tuhan yang ENTER.

Gaduh.
Tapi itulah teater.
Tuhan, Malaikat, Pendosa, Penjahat.
Semua tenang berada dlm satu naskah.

Ada orang baik, lengkap dg maksud baiknya.
Tapi lupa bahwa dalam sandiwara, kebaikan itu ada batasnya.
Katamu, kata kalian:
kita baik,
kita tulus,
kita dari hati.

Itu di Panggung.

Di kamar ganti:
kita itu bohong,
kita tipu mereka,
kita itu pura-pura,
kita lupa/kan.

Suatu waktu,
kebimbangan ini akan pecah
dilumat ombak pd terumbu karang,
setelah tak sempat terjawab.

Mungkin, suatu waktu.

Makassar, 11 Juni 2014.
Maqbul Halim
Selengkapnya >>

Jumat, 06 Juni 2014

Di Twitter, Jubir Golkar Sulsel Sebut Kopel Sulawesi Pecundang

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Juru bicara (jubir) Golkar Sulsel, Maqbul Halim, melancarkan kritikan kepada Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Indonesia. Kritik Maqbul, disampaikannya melalui akun twitter-nya beralamar @maqbulhalim.

Kritik Maqbul disampaikan dalam delapan tweet yang menggunakan hashtag (tanda pagar) #Kopel_Sulawesi. Di tweet pertamanya, Maqbul mengkritik Kopel Sulawesi dengan menyebut Kopel sebagai LSM partisan.

“Kopel Sulawesi, LSM partisan, mulai persoalkan proyek CPI di Sulsel. Apa lg agenda politik LSM ini? #Kopel_Sulawesi” tulis Maqbul dalam akunnya.

Maqbul juga mengkritik Kopel Sulawesi yang tidak pernah mengungkit kasus PDAM Makassar. “Katanya melakukan investigasi di proyek CPI! Tp 6 thn data kerugian negara di PDAM Makassar, tdk pernah diinvestigasi. #Kopel_Sulawesi” tulisnya.

“@maqbulhalim: Ada hubungan apa antara PDAM Makassar & Kopel Sulawesi shg lsm partisan ini tdk investigasi PDAM Mks? #Kopel_Sulawesi” tulis Maqbul berikutnya.

Bekas komisioner KPU Makassar ini, bahkan menyebutkan kemungkinan adanya hubungan transaksional sehingga hal tersebut tidak terungkap. “Hubungan transaksional kah? Hubungan budi baik kah? #Kopel_Sulawesi” tulisnya.

Padahal, menurut Maqbul, DPRD Makassar sudah pernah mengeluarkan rekomendasi agar PDAM Makassar menghentikan kerjasamanya yg rugikan negara. “Kopel Sulsel tahu rekomendasi itu, tp Kopel tutup mata-telinga. #Kopel_Sulawesi” tulisnya.

Di akhir rangkaian tweet berhashtag #Kopel_Sulawesi, Maqbul menuliskan. “Tak ada sikap kopel sejauh itu. Jadi sudahlah. Sekali lancung ke ujian, selamanya jd pecundang. #Kopel_Sulawesi” tulis Maqbul.

Hingga berita ini diturunkan tidak ada tanggapan dari para pengurus Kopel Sulawesi.


Sumber : http://rakyatsulsel.com/di-twitter-jubir-golkar-sulsel-sebut-kopel-sulawesi-pecundang.html
Selengkapnya >>

Minggu, 25 Mei 2014

Berita Bias Atas Keterangan Saya



Ini adalah percakapan saya dengan Ilham, reporter/editor @tribuntimur tentang posisi @syahrul_yl dalam struktur Tim Pemenangan Kandidat PRABOWO-HATTA di Sulawesi Selatan. 

Percakapan melalui BlackBerry Messager ini berlangsung 25 Mei, siang, 14.15-14.51. Namun saat diberitakan dengan judul "Gubernur Syahrul Disebut Pimpin Tim Prabowo-Hatta di Sulsel" mengalami bias negatif. 

http://makassar.tribunnews.com/2014/05/25/akhirnya-gubernur-syahrul-pimpin-tim-pemenangan-prabowo-hatta-di-sulsel

MH Maqbul Halim: PING!!!
Ilham (ilo) Mangenre: Iye puang andi
MH Maqbul Halim: Ada ji ternyata
MH Maqbul Halim: Pin BlackBerry ta di bbku
Ilham (ilo) Mangenre: Hahahaha,,iyaro kasi
MH Maqbul Halim: Ubaca sms ta denre
Ilham (ilo) Mangenre: Iyaro puang andi
Ilham (ilo) Mangenre: Parellu ibalas yolo
Ilham (ilo) Mangenre: Makkeda pikkogiro kesiapanta
MH Maqbul Halim: Aga yaseng kesiapan? =-D
Ilham (ilo) Mangenre: KesiapanG memenangkan parabowo-hatta rajasa puang andi=))
MH Maqbul Halim: Yaaa, tentu siap kan
Ilham (ilo) Mangenre: Bueh,,jadi tim sudah disiapkan ini puang Andi?
Ilham (ilo) Mangenre: Hahaha
MH Maqbul Halim: Contoh, Golkar Sulsel sdh buat rapat yg hasilnya rekomendasikan 12 org bergabung di TENDA BESAR Koalisi Merah Putih PRABOWO HATTA
MH Maqbul Halim: Selain itu, Golkar Sulsel sendiri buat Tim TENDA KUNING
Ilham (ilo) Mangenre: MasyaAllah
Ilham (ilo) Mangenre: Jadii Pak Ketua SYL tetap dukung Prabowo-Hatta puang andi?=D
Ilham (ilo) Mangenre: Mantap sekali puang nadi
Ilham (ilo) Mangenre: Puang Andi
MH Maqbul Halim: Pak Syahrul kendalikan langsung Tim TENDA KUNING
Ilham (ilo) Mangenre: Mantap puang Andi
MH Maqbul Halim: Siap deng Andi
Ilham (ilo) Mangenre: Hahaahaha ba Deng Andi
Ilham (ilo) Mangenre: Hahahaha

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the XL network.

Selengkapnya >>

Minggu, 20 April 2014

Anak Panah Jatuh di Sungai










Mereka itu anak panah
Jika belantara perang sedang diam
mereka dionggok di kantong anak panah
Tidak berbahaya, tidak menakutkan
Bisa dipatahkan
Bisa disimpan saat empunya sedang sibuk di ranjang

Dalam suatu pesta malam, dan yang berbahaya sedang tenang, diam
Tak ada tentara yang memeriksa anak panahnya
Tapi di pinggangnya tetap terselip bilah pedang

Anak panah tidak pernah kembali ke busurnya
Sekali itulah mereka diluncurkan menukik pergi
Mendesis menembus angin melumat bentang
Menghajar, menubruk, menembus
Juga meleset, melenceng ditelan gravitasi, mungkin jatuh di sungai
Hanyut entah kemana dalam gelap malam
Setelah itu, mereka mungkin terbuang dalam waktu
Mereka entah dimana, ketika roti dan anggur sedang dibagikan di bawah tenda perang

Saat perang menisbahkan pemenang,
saat burung nazar berpesta di atas bangkai manusia,
Kavaleri pulang dengan kudanya
Infantri pulang dengan tombak dan pedangnya
Artileri pulang dengan meriamnya
Pemanah pulang dengan busurnya

Busur yang telah dilepas, tak dibawah pulang
Mereka bersama dengan tentara yang meregang sakit,
Mereka dibakar, dikubur massal bersama mayat-mayat
Mereka tidak dirawat seperti pedang, tombak, dan busur
Tidak juga sebagai pemantik dalam kisah sukses perang
Mereka tidak dicemaskan oleh majikan yang soleh, penglima yang adil, raja yang bijak

Mereka itu anak panah, bukan pedang. Bukan tombak.
Hubungan antara anak panah dan pemanah, berakhir saat anak panah dilepas dari busur
Itu pun tak ada garis yang tetap dan pasti.

Makassar, 20 April 2014
Selengkapnya >>

Sabtu, 05 April 2014

Memang Enak Pilih Maqbul Halim

Maqbul Halim, atau MH, mungkin bisa disebut orang yang ada apanya, sekaligus juga apa adanya. Dia bukan orang idealis, bukan juga orang yang betul-betul jahat. Yang pasti, dia adalah orang calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar (5) untuk DPRD Sulsel, dapil Sulsel2 nomor urut 5.

Tidak banyak yang bisa diharapkan dari Alumni Komunikasi Universitas Hasanuddin 1999 ini. Tapi, dia bisa memberi harapan. Juga, dia bukan alat pemuas orang banyak, tapi bisa memberi kepuasan.

Di DPD Golkar Sulsel, Maqbul juga bukan orang yang sangat penting, atau penting. Yang mungkin paling betul adalah, bisa jadi justru mementingkan diri, bukannya orang penting. Kalau Makcbulatov, nama rusak Maqbul Halim saat masih aktif kuliah di Kampus Merah Unhas Tamalanrea, adalah seorang calon legislatif, tentu kita bertanya, apa enaknya memilih Maqbul Halim?

Pertama, Maqbul itu murah senyum. Senyumnya sangat melimpah saat-saat seperti sekarang ini, saat pen-caleg-annya sedang membara. Semoga dia tidak terus-terusan tersenyum, sekalipun sudah lewat tanggal 9 April 2014 nanti, atau saat ia menyendiri tapi masih tetap tersenyum.

Kedua, Maqbul itu selalu berusaha rapi dan teratur. Lihat sendirilah orangnya, jika anda punya kesempatan. Ia kerap terlihat kacau, juga tidak beraturan. Nah, saat ia kacau, tidak teratur, itulah saat yang berkesan bergabung bersama Maqbul.

Ketiga, bagi Maqbul, semua orang yang ada di hadapannya diperlakukan sebagai bangsawan. Ia sudah fasih memanggil semua orang yang dikenalnya dengan sapaan gelar bangsawan Bugis, ANDI. "Bagamana kabar Bu Andi?" atau "Dari mana Pak Andi?" adalah sapaan renyah yang mudah meluncur dari mulut ayah empat anak ini. Nah, Anda yang ingin diakui sebagai bangsawan, bergabunglah bersama Maqbul, Anda menjadi bangsawan tanpa biaya.

Keempat, Maqbul itu orangnya kerap tidak logis, dan akhirnya menjadi lucu. Ia bisa melucu pada saat-saat tertentu. Tetapi yang kerap terlihat, Maqbul justru lebih banyak terlihat lucu dari pada melucu. Andaikan Maqbul tidak sarjana, dia sebaiknya adalah seorang pelawak. Meski disayangkan, wajahnya sudah lewat usia untuk dilawaki.

Kelima, entah apa saya mau bilang apa lagi.

Keenam, sudah dulu ya.

Ketujuh, wassalam

(anonymous)
Selengkapnya >>

Rabu, 05 Maret 2014

Kata Syahrul tentang Maqbul Halim

Komandan @syahrul_yl : "Apa yang anda ragukan dari caleg-caleg Partai Golkar? Maqbul Halim itu juru bicara saya. Dia mantan anggota KPU Kota Makassar. Jadi, anda tidak salah pilih." Keterangan Syahrul YL saat sosialisasikan saya di Warkop HOT Tamalanrea, Senin, 24 Februari 2014.








Selengkapnya >>

Jumat, 07 Februari 2014

Rehat Saat Rakorda BKPP GOLKAR SULSEL


Makassar- Maqbul Halim berbincang bersama Hj Tenri Olle YL dan H Jushar Khuduri saat rapat koordinasi daerah BKPP (Badan Koordinasi Pemenangan Pemilu) di Kantor Golkar Sulsel Jln Amanagappa Makassar. 

Maqbul Halim adalah caleg DPRD SULSEL Dapil Sulsel 2 (Makassar B), Hj Tenri Olle YL dari Dapil Sulsel 3 (Kab Gowa dan Takalar), dan Jushar dari Dapil Sulsel 6 (Kab Bone). 

@emhateam
Selengkapnya >>

Sabtu, 18 Januari 2014

Glasnot dan Prestroika

Makassar, 18 jan 2014

Untuk mengejar ketertinggalan negerinya dalam Perang Dingin di penghujung abad silam, pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, menginisiasi restrukturisasi negara melalui kebijakan Perestroika dan Glasnost yang mulai dijalankan pada 6 Maret 1986. 

Kebijakan itu memperoleh sambutan hangat dari rakyat, tetapi dikecam oleh golongan ortodoks yang menilai tindakannya terlalu ekstrim.

Perestroika merupakan istilah di Uni Soviet untuk reformasi struktur politik dan ekonominya. Jika tidak, Soviet akan tertinggal dari Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat. 

Glasnost adalah istilah untuk kebijakan mengenai keterbukaan dalam semua bidang di dalam struktur pemerintahan Uni Soviet.

Uni Soviet saat itu, mungkin serupa Republik Indonesia saat ini, pemerintahaannya dirundung skandal dan penyalahgunaan kewenangan pejabat, perekonomian tidak teratur.

Gorbachev kirim negaranya pergi meninggalkan kondisi buruk itu, termasuk membiarkan dirinya ditinggalkan dalam perjalanan itu. 

Selamat berakhir pekan. Ingat, saya:
MAQBUL HALIM
CALEG DPRD PROVINSI SULAWESI SELATAN
PARTAI GOLKAR
NOMOR URUT 5
DAERAH PEMILIHAN SULSEL 2 (MAKASSAR B: Kec. Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, Manggala)
Selengkapnya >>

Kamis, 16 Januari 2014

Cappo Community ke Maqbul Halim

Makassar-CAPPO COMMUNITY adalah kumpulan orang-orang yang berhimpun untuk menjadi relawan H.A.M. Yagkin Padjalangi, anggota DPRD Sulsel periode 2009-2014 dari Fraksi Partai Golkar. Alasan berkumpulnya mereka adalah karena rasa persaudaraan dan pertemanan yang tinggi di antara mereka, dan dengan Yagkin Padjalangi.

Pada Pemilu Legislatif 2014 ini, relawan ini bekerja untuk memenangkan Maqbul Halim yang menjadi calon anggota legislatif dari Daerah Pemilihan Sulsel Dua, yaitu Kota Makassar B (Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala).

(MH Team)
Selengkapnya >>

Minggu, 22 Desember 2013

Verifikasi Berlapis Gaya Ato

Siang hari itu pada suatu hari, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Syarif Jimar, seorang teman kantor, sedang bersama saya. Sessat kemudian, ia sudah meluncur dengan sepeda motornya pergi menjemput Ato di sekolahnya, SDIT Albiruni. Lokasi sekolah ini tidak jauh dari tempat saya sedang rehat menikmati kopi panas bersama Syarif. 

Ini adalah kali pertama Ato dijemput oleh Syarif. Syarif hanya pernah menjemput kakak Ato, Abi, di SD Unggulan Toddopuli sebelumnya dan Ato tidak pernah. Ato yang sudah duduk di kelas tiga ini, juga belum mengenal dan belum tahu siapa Syarif yang menjemputnya. 

Syarif yang juga pertama kali injakkan kakinya di Albiruni, langsung memberitahukan penjaga sekolah bahwa dirinya bermaksud menjemput Ato pulang. Tak lama kemudian, Ato pun muncul di pintu utama sekolah lantai satu. 

Ato mengetahui bahwa sosok laki-laki yang ada di depannya adalah orang yang bermaksud menjemputnya. Namun Ato bingung karena orang ini tidak pernah dilihatnya sebelumnya. 

''Ato, ayo saya antar pulang,'' ajak Syarif di depan pintu utama. 

Sambil menggaruk kepalanya dan dengan wajah kusut, Ato bertanya menanggapi, ''Aduh, kenapa bisa kenal namaku?''

''Saya disuruh bapaknya Ato jemput Ato pulang,'' jawab Syarif.

''Siapa namanya bapakku?'' tanya Ato lagi.

''Pak Maqbul. Saya temannya,'' jawab Syarif lagi.

''Berarti kamu tahu nomor HPnya. Coba telpon sekarang!'' ujar Ato kemudian menunggu Syarif mendial nomor ponselku di ponsel Syarif. 

Saya yang sedang rehat saat itu, mengintip nama Syarif di ponselku sedang memanggil. Saya terima panggilan itu sambil membatin mengenai masalah yang sedang dihadapi Syarif, yaitu sejumlah pertanyaan dari Ato.

''Halo, Ato ini ya?'' tanya saya yang sudah memastikan kalau bukan Syarif yang berkepentingan berbicara.

''Iya. Etta, ada teman Etta yang jemput saya di sekolah sekarang?'' tanya Ato. 

Saya jawab bahwa itu betul. 

''Kalau teman Etta, siapa namanya?'' tanya Ato lagi.

''Syarif namanya, nak,''

''Oooh. Apa warna bajunya?''

''Warna oranye, nak.'' 

''Oooh, oke saya ikut kalau begitu." ujar Ato sambil kedengaran kembalikan ponsel di tangannya ke Syarif. Saya membalasnya agar berhati-hati di jalan.

Setelah Syarif selesai antar Ato pulang, saya intip update status ter-update di Blackberry. Saya menemukan status terbaru Syarif, ''Saya terus berpikir tentang Ato''.

Bahkan hingga dua hari kemudian sejak itu, ada lagi status Syarif, ''Saya tidak bisa lupa tentang Ato''.

Otw ke Yogyakarta, 22 Desember 2013

Selengkapnya >>

Senin, 16 Desember 2013

Menakar Peluang Caleg Golkar Dapil Sulsel II (Makassar B)

Maqbul Halim
Partai Golongan Karya akan bekerja keras demi mencapai target yang diingikan pada pemilu legislatif (pileg) 2014. Tak tanggung-tanggung, partai peraih kursi terbanyak di DPRD Sulsel pada Pemilu 2009 lalu ini mematok kursi yang ingin diraihnya pada pileg mendatang sebanyak 33 kursi dari 11 daerah pemilihan (dapil) yang tersebar di 24 kabupaten kota.

Artinya, jika dihitung-hitung dengan caleg yang didorong saat ini, partai besutan Aburizal Bakrie ini harus mendapatkan 2-3 jatah kursi di tiap dapil yang diperebutkan.

Khusus untuk dapil Sulsel II, Makassar B, partai beringin ini patut tersenyum, karena persaingan di dapil tersebut kurang sengit. Sehingga dipastikan 1 kursi sudah aman dikantongi. Direktur Eksekutif Indeks Politika Indonesia (IPI), Suwadi Idris Amir menjelaskan, menurut analisisnya, ada empat partai yang sudah pasti mendapatkan kursi di dapil yang memperebutkan 6 kursi dari 72 caleg yang mengincar kursi DPRD Sulsel. Partai tersebut masing-masing adalah Golkar, Demokrat, PKS, dan Hanura.

Prediksi IPI ini bersandar pada hasil survei terakhir mereka di dapil yang meliputi empat kecamatan; Panakkukang, Manggala, Biringkanaya, dan Tamalanrea ini. IPI mempertimbangkan akumulasi elektabilitas caleg dan parpol, serta memprediksi pergerakan tren caleg dan parpol dalam memprediksi perkiraan hasil pileg nantinya.

“Jadi Golkar sebenarnya sudah pasti mendapatkan kursi, walau menurut analisis kami, untuk sementara baru 1 kursi yang bisa dikatakan aman sebagai jatah Golkar. Namun untuk mendapatkan kursi lebih, Golkar harus berjuang ekstra keras, karena pesaing dari partai lain juga tidak bisa dianggap remeh,” tegas Suwadi, Senin (9/12).

Dia membeberkan, ada beberapa caleg Golkar yang diperhitungkan sebagai penggalang suara atau caleg yang bakal berkontribusi besar terhadap akumulasi perolehan suara. Yang paling menonjol di internal adalah caleg yang berupaya naik kelas dari DPRD Kota Makassar, Imran Tenri Tata Amin.
Putra pasangan bekas Gubernur Sulsel-bekas calon Walikota, Amin Syam-Apiaty Kamaluddin, ini pada September lalu saja, menempati peringkat 4 besar dengan elektabilitas 4,35 persen.

Caleg lainnya seperti Amirullah Tahir, Maqbul Halim dan Usman Genda, diakui Suwadi juga diprediksi memiliki peluang besar terpilih sebagai anggota dewan. Terpisah, Manager Strategi Pemenangan Jaringan Suara Indonesia (JSI), Irfan Jaya, menilai empat caleg Golkar itu patut diperhitungkan sebagai penggalang suara. Dia menjelaskan, mereka sudah tidak asing lagi di dunia politik. Selain itu Golkar juga memiliki basis pemilih tradisional yang cukup besar di Makassar.

“Tentunya Partai Golkar layak diunggulkan karena memang partai ini punya basis pemilih tradisional. Jika partai lain masih harus up grading partainya, bagi kader Golkar tentu pekerjaan seperti itu sudah terselesaikan. Jadi tugas kader Golkar adalah mensosialisasikan calegnya karena elektabilitas parpol cukup menjanjikan,” kata Irfan, malam tadi.

Meski Golkar layak diunggulkan, akan tetapi, lanjut Irfan, tingginya elektabilitas parpol dan modal caleg yang populer tidak bisa dijadikan sebagai jaminan untuk tidak bekerja.

“Mereka memang punya potensi, akan tetapi kompetisi sangatlah ketat. Tiga sampai empat bulan ke depan adalah kompetisi yang sangat keras. Tidak ada waktu untuk bersantai. Siapa yang bersantai maka dia yang akan terhempas dari kompetisi. Baik dikalahkan oleh sesama caleg internal atau disingkirkan oleh caleg dari partai lain. Dengan rentan waktu yang tersisa, belum bisa dipastikan berapa raihan kursi yang memungkinkan diperoleh Golkar,” ingatnya.

Sementara Golkar sendiri optimistis mampu mendapatkan 3 kursi di dapil ini. Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel Arfandy Idris menyebutkan, partainya menargetkan 3 kursi per dapil. Sehingga target keseluruhan adalah 33 kursi DPRD Sulsel.

“Dan kita optimis bisa mencapai target itu. Kalaupun ada dapil yang misalnya tidak mencapai target, anggaplah hanya dua kursi, kan bisa ditutupi oleh perolehan kursi di dapil lain, sehingga target total masih terpenuhi,” tandas Arfandy. (abe-rud)
CALEG GOLKAR DAPIL SULSEL II
1. IMRAN TENRI TATA AMIN
2. IR. ISLAHWATY ISRAIL
3. AMIRULLAH TAHIR
4. EMMA PRIMITA
5. MAQBUL HALIM
6. USMAN GENDA

Sumber : http://rakyatsulsel.com/menakar-peluang-caleg-golkar-dapil-sulsel-ii-makassar-b.html
Akses : Senin, 16-12-2013
Selengkapnya >>

Rabu, 04 September 2013

Irman YL Bisa Sehatkan Pemerintahan di Kota Makassar

Pemerintah Kota Makassar telah lama memisahkan diri dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Hirarki dan tata kerja pemerintahan menjadi kontra produktif. Garis komando dan koordinasi dari Pemprov Sulsel ke Pemkot Makassar kehilangan titik destinasi.

Kota Makassar digembleng oleh sosok kontraktor yang tidak mementingkan etika dan norma-norma pemerintahan selama delapan tahun terakhir ini. Level pemerintahan dalam otonomi daerah tidak menjadi referensi bagi aparat pemerintah Kota Makassar dalam melayani kebutuhan daerahnya.

Sikap "pemberontak" walikota Makassar seperti itu pernah ditunjukkan saat Pemprov Sulsel meluncurkan pembangunan kawasan Center Point Of Indonesia (COI) di bilangan pesisir Kota Makassar. Pihak Pemkot Makassar mengaku belum pernah mengeluarkan izin bagi pelaksanaan proyek Pemprov Sulsel tersebut.

Sikap pemkot Makassar seperti ini, tentu saja sulit diterima menurut azas-azas pemerintahan dalam otonomi daerah. Provinsi Sulsel ibarat bagian dari Kota Makassar. Oleh karena itu, pemerintahan yang sehat di Sulawesi Selatan dengan mengembalikan pemkot Makassar ke Pemprov Sulsel adalah suatu keniscayaan.

Irman Yasin Limpo adalah sosok birokrat yang lebih kenyang dengan urusan pemerintahan. Tentu saja karena itu, Irman YL yang paling berpeluang bisa mengembalikan permerintahan kota Makassar di bawah naungan Pemprov Sulsel. Irman YL bukan kontraktor.

Meski Irman YL bukan manusia sempurna, sebagaimana kandidat calon walikota lainnya. Tetapi ia tidak pernah berdusta bahwa ia pernah presentase World Cities Summit Mayors Forum di Bilbao Spanyol, padahal pada kenyataannya itu tidak pernah terjadi.
Selengkapnya >>