SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG
Don't Stop Komandan

Sabtu, 05 April 2014

Memang Enak Pilih Maqbul Halim

Maqbul Halim, atau MH, mungkin bisa disebut orang yang ada apanya, sekaligus juga apa adanya. Dia bukan orang idealis, bukan juga orang yang betul-betul jahat. Yang pasti, dia adalah orang calon anggota legislatif (caleg) Partai Golkar (5) untuk DPRD Sulsel, dapil Sulsel2 nomor urut 5.

Tidak banyak yang bisa diharapkan dari Alumni Komunikasi Universitas Hasanuddin 1999 ini. Tapi, dia bisa memberi harapan. Juga, dia bukan alat pemuas orang banyak, tapi bisa memberi kepuasan.

Di DPD Golkar Sulsel, Maqbul juga bukan orang yang sangat penting, atau penting. Yang mungkin paling betul adalah, bisa jadi justru mementingkan diri, bukannya orang penting. Kalau Makcbulatov, nama rusak Maqbul Halim saat masih aktif kuliah di Kampus Merah Unhas Tamalanrea, adalah seorang calon legislatif, tentu kita bertanya, apa enaknya memilih Maqbul Halim?

Pertama, Maqbul itu murah senyum. Senyumnya sangat melimpah saat-saat seperti sekarang ini, saat pen-caleg-annya sedang membara. Semoga dia tidak terus-terusan tersenyum, sekalipun sudah lewat tanggal 9 April 2014 nanti, atau saat ia menyendiri tapi masih tetap tersenyum.

Kedua, Maqbul itu selalu berusaha rapi dan teratur. Lihat sendirilah orangnya, jika anda punya kesempatan. Ia kerap terlihat kacau, juga tidak beraturan. Nah, saat ia kacau, tidak teratur, itulah saat yang berkesan bergabung bersama Maqbul.

Ketiga, bagi Maqbul, semua orang yang ada di hadapannya diperlakukan sebagai bangsawan. Ia sudah fasih memanggil semua orang yang dikenalnya dengan sapaan gelar bangsawan Bugis, ANDI. "Bagamana kabar Bu Andi?" atau "Dari mana Pak Andi?" adalah sapaan renyah yang mudah meluncur dari mulut ayah empat anak ini. Nah, Anda yang ingin diakui sebagai bangsawan, bergabunglah bersama Maqbul, Anda menjadi bangsawan tanpa biaya.

Keempat, Maqbul itu orangnya kerap tidak logis, dan akhirnya menjadi lucu. Ia bisa melucu pada saat-saat tertentu. Tetapi yang kerap terlihat, Maqbul justru lebih banyak terlihat lucu dari pada melucu. Andaikan Maqbul tidak sarjana, dia sebaiknya adalah seorang pelawak. Meski disayangkan, wajahnya sudah lewat usia untuk dilawaki.

Kelima, entah apa saya mau bilang apa lagi.

Keenam, sudah dulu ya.

Ketujuh, wassalam

(anonymous)
Selengkapnya >>

Rabu, 05 Maret 2014

Kata Syahrul tentang Maqbul Halim

Komandan @syahrul_yl : "Apa yang anda ragukan dari caleg-caleg Partai Golkar? Maqbul Halim itu juru bicara saya. Dia mantan anggota KPU Kota Makassar. Jadi, anda tidak salah pilih." Keterangan Syahrul YL saat sosialisasikan saya di Warkop HOT Tamalanrea, Senin, 24 Februari 2014.








Selengkapnya >>

Jumat, 07 Februari 2014

Rehat Saat Rakorda BKPP GOLKAR SULSEL


Makassar- Maqbul Halim berbincang bersama Hj Tenri Olle YL dan H Jushar Khuduri saat rapat koordinasi daerah BKPP (Badan Koordinasi Pemenangan Pemilu) di Kantor Golkar Sulsel Jln Amanagappa Makassar. 

Maqbul Halim adalah caleg DPRD SULSEL Dapil Sulsel 2 (Makassar B), Hj Tenri Olle YL dari Dapil Sulsel 3 (Kab Gowa dan Takalar), dan Jushar dari Dapil Sulsel 6 (Kab Bone). 

@emhateam
Selengkapnya >>

Sabtu, 18 Januari 2014

Glasnot dan Prestroika

Makassar, 18 jan 2014

Untuk mengejar ketertinggalan negerinya dalam Perang Dingin di penghujung abad silam, pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, menginisiasi restrukturisasi negara melalui kebijakan Perestroika dan Glasnost yang mulai dijalankan pada 6 Maret 1986. 

Kebijakan itu memperoleh sambutan hangat dari rakyat, tetapi dikecam oleh golongan ortodoks yang menilai tindakannya terlalu ekstrim.

Perestroika merupakan istilah di Uni Soviet untuk reformasi struktur politik dan ekonominya. Jika tidak, Soviet akan tertinggal dari Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat. 

Glasnost adalah istilah untuk kebijakan mengenai keterbukaan dalam semua bidang di dalam struktur pemerintahan Uni Soviet.

Uni Soviet saat itu, mungkin serupa Republik Indonesia saat ini, pemerintahaannya dirundung skandal dan penyalahgunaan kewenangan pejabat, perekonomian tidak teratur.

Gorbachev kirim negaranya pergi meninggalkan kondisi buruk itu, termasuk membiarkan dirinya ditinggalkan dalam perjalanan itu. 

Selamat berakhir pekan. Ingat, saya:
MAQBUL HALIM
CALEG DPRD PROVINSI SULAWESI SELATAN
PARTAI GOLKAR
NOMOR URUT 5
DAERAH PEMILIHAN SULSEL 2 (MAKASSAR B: Kec. Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, Manggala)
Selengkapnya >>

Kamis, 16 Januari 2014

Cappo Community ke Maqbul Halim

Makassar-CAPPO COMMUNITY adalah kumpulan orang-orang yang berhimpun untuk menjadi relawan H.A.M. Yagkin Padjalangi, anggota DPRD Sulsel periode 2009-2014 dari Fraksi Partai Golkar. Alasan berkumpulnya mereka adalah karena rasa persaudaraan dan pertemanan yang tinggi di antara mereka, dan dengan Yagkin Padjalangi.

Pada Pemilu Legislatif 2014 ini, relawan ini bekerja untuk memenangkan Maqbul Halim yang menjadi calon anggota legislatif dari Daerah Pemilihan Sulsel Dua, yaitu Kota Makassar B (Kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala).

(MH Team)
Selengkapnya >>

Minggu, 22 Desember 2013

Verifikasi Berlapis Gaya Ato

Siang hari itu pada suatu hari, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Syarif Jimar, seorang teman kantor, sedang bersama saya. Sessat kemudian, ia sudah meluncur dengan sepeda motornya pergi menjemput Ato di sekolahnya, SDIT Albiruni. Lokasi sekolah ini tidak jauh dari tempat saya sedang rehat menikmati kopi panas bersama Syarif. 

Ini adalah kali pertama Ato dijemput oleh Syarif. Syarif hanya pernah menjemput kakak Ato, Abi, di SD Unggulan Toddopuli sebelumnya dan Ato tidak pernah. Ato yang sudah duduk di kelas tiga ini, juga belum mengenal dan belum tahu siapa Syarif yang menjemputnya. 

Syarif yang juga pertama kali injakkan kakinya di Albiruni, langsung memberitahukan penjaga sekolah bahwa dirinya bermaksud menjemput Ato pulang. Tak lama kemudian, Ato pun muncul di pintu utama sekolah lantai satu. 

Ato mengetahui bahwa sosok laki-laki yang ada di depannya adalah orang yang bermaksud menjemputnya. Namun Ato bingung karena orang ini tidak pernah dilihatnya sebelumnya. 

''Ato, ayo saya antar pulang,'' ajak Syarif di depan pintu utama. 

Sambil menggaruk kepalanya dan dengan wajah kusut, Ato bertanya menanggapi, ''Aduh, kenapa bisa kenal namaku?''

''Saya disuruh bapaknya Ato jemput Ato pulang,'' jawab Syarif.

''Siapa namanya bapakku?'' tanya Ato lagi.

''Pak Maqbul. Saya temannya,'' jawab Syarif lagi.

''Berarti kamu tahu nomor HPnya. Coba telpon sekarang!'' ujar Ato kemudian menunggu Syarif mendial nomor ponselku di ponsel Syarif. 

Saya yang sedang rehat saat itu, mengintip nama Syarif di ponselku sedang memanggil. Saya terima panggilan itu sambil membatin mengenai masalah yang sedang dihadapi Syarif, yaitu sejumlah pertanyaan dari Ato.

''Halo, Ato ini ya?'' tanya saya yang sudah memastikan kalau bukan Syarif yang berkepentingan berbicara.

''Iya. Etta, ada teman Etta yang jemput saya di sekolah sekarang?'' tanya Ato. 

Saya jawab bahwa itu betul. 

''Kalau teman Etta, siapa namanya?'' tanya Ato lagi.

''Syarif namanya, nak,''

''Oooh. Apa warna bajunya?''

''Warna oranye, nak.'' 

''Oooh, oke saya ikut kalau begitu." ujar Ato sambil kedengaran kembalikan ponsel di tangannya ke Syarif. Saya membalasnya agar berhati-hati di jalan.

Setelah Syarif selesai antar Ato pulang, saya intip update status ter-update di Blackberry. Saya menemukan status terbaru Syarif, ''Saya terus berpikir tentang Ato''.

Bahkan hingga dua hari kemudian sejak itu, ada lagi status Syarif, ''Saya tidak bisa lupa tentang Ato''.

Otw ke Yogyakarta, 22 Desember 2013

Selengkapnya >>

Senin, 16 Desember 2013

Menakar Peluang Caleg Golkar Dapil Sulsel II (Makassar B)

Maqbul Halim
Partai Golongan Karya akan bekerja keras demi mencapai target yang diingikan pada pemilu legislatif (pileg) 2014. Tak tanggung-tanggung, partai peraih kursi terbanyak di DPRD Sulsel pada Pemilu 2009 lalu ini mematok kursi yang ingin diraihnya pada pileg mendatang sebanyak 33 kursi dari 11 daerah pemilihan (dapil) yang tersebar di 24 kabupaten kota.

Artinya, jika dihitung-hitung dengan caleg yang didorong saat ini, partai besutan Aburizal Bakrie ini harus mendapatkan 2-3 jatah kursi di tiap dapil yang diperebutkan.

Khusus untuk dapil Sulsel II, Makassar B, partai beringin ini patut tersenyum, karena persaingan di dapil tersebut kurang sengit. Sehingga dipastikan 1 kursi sudah aman dikantongi. Direktur Eksekutif Indeks Politika Indonesia (IPI), Suwadi Idris Amir menjelaskan, menurut analisisnya, ada empat partai yang sudah pasti mendapatkan kursi di dapil yang memperebutkan 6 kursi dari 72 caleg yang mengincar kursi DPRD Sulsel. Partai tersebut masing-masing adalah Golkar, Demokrat, PKS, dan Hanura.

Prediksi IPI ini bersandar pada hasil survei terakhir mereka di dapil yang meliputi empat kecamatan; Panakkukang, Manggala, Biringkanaya, dan Tamalanrea ini. IPI mempertimbangkan akumulasi elektabilitas caleg dan parpol, serta memprediksi pergerakan tren caleg dan parpol dalam memprediksi perkiraan hasil pileg nantinya.

“Jadi Golkar sebenarnya sudah pasti mendapatkan kursi, walau menurut analisis kami, untuk sementara baru 1 kursi yang bisa dikatakan aman sebagai jatah Golkar. Namun untuk mendapatkan kursi lebih, Golkar harus berjuang ekstra keras, karena pesaing dari partai lain juga tidak bisa dianggap remeh,” tegas Suwadi, Senin (9/12).

Dia membeberkan, ada beberapa caleg Golkar yang diperhitungkan sebagai penggalang suara atau caleg yang bakal berkontribusi besar terhadap akumulasi perolehan suara. Yang paling menonjol di internal adalah caleg yang berupaya naik kelas dari DPRD Kota Makassar, Imran Tenri Tata Amin.
Putra pasangan bekas Gubernur Sulsel-bekas calon Walikota, Amin Syam-Apiaty Kamaluddin, ini pada September lalu saja, menempati peringkat 4 besar dengan elektabilitas 4,35 persen.

Caleg lainnya seperti Amirullah Tahir, Maqbul Halim dan Usman Genda, diakui Suwadi juga diprediksi memiliki peluang besar terpilih sebagai anggota dewan. Terpisah, Manager Strategi Pemenangan Jaringan Suara Indonesia (JSI), Irfan Jaya, menilai empat caleg Golkar itu patut diperhitungkan sebagai penggalang suara. Dia menjelaskan, mereka sudah tidak asing lagi di dunia politik. Selain itu Golkar juga memiliki basis pemilih tradisional yang cukup besar di Makassar.

“Tentunya Partai Golkar layak diunggulkan karena memang partai ini punya basis pemilih tradisional. Jika partai lain masih harus up grading partainya, bagi kader Golkar tentu pekerjaan seperti itu sudah terselesaikan. Jadi tugas kader Golkar adalah mensosialisasikan calegnya karena elektabilitas parpol cukup menjanjikan,” kata Irfan, malam tadi.

Meski Golkar layak diunggulkan, akan tetapi, lanjut Irfan, tingginya elektabilitas parpol dan modal caleg yang populer tidak bisa dijadikan sebagai jaminan untuk tidak bekerja.

“Mereka memang punya potensi, akan tetapi kompetisi sangatlah ketat. Tiga sampai empat bulan ke depan adalah kompetisi yang sangat keras. Tidak ada waktu untuk bersantai. Siapa yang bersantai maka dia yang akan terhempas dari kompetisi. Baik dikalahkan oleh sesama caleg internal atau disingkirkan oleh caleg dari partai lain. Dengan rentan waktu yang tersisa, belum bisa dipastikan berapa raihan kursi yang memungkinkan diperoleh Golkar,” ingatnya.

Sementara Golkar sendiri optimistis mampu mendapatkan 3 kursi di dapil ini. Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel Arfandy Idris menyebutkan, partainya menargetkan 3 kursi per dapil. Sehingga target keseluruhan adalah 33 kursi DPRD Sulsel.

“Dan kita optimis bisa mencapai target itu. Kalaupun ada dapil yang misalnya tidak mencapai target, anggaplah hanya dua kursi, kan bisa ditutupi oleh perolehan kursi di dapil lain, sehingga target total masih terpenuhi,” tandas Arfandy. (abe-rud)
CALEG GOLKAR DAPIL SULSEL II
1. IMRAN TENRI TATA AMIN
2. IR. ISLAHWATY ISRAIL
3. AMIRULLAH TAHIR
4. EMMA PRIMITA
5. MAQBUL HALIM
6. USMAN GENDA

Sumber : http://rakyatsulsel.com/menakar-peluang-caleg-golkar-dapil-sulsel-ii-makassar-b.html
Akses : Senin, 16-12-2013
Selengkapnya >>

Rabu, 04 September 2013

Irman YL Bisa Sehatkan Pemerintahan di Kota Makassar

Pemerintah Kota Makassar telah lama memisahkan diri dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Hirarki dan tata kerja pemerintahan menjadi kontra produktif. Garis komando dan koordinasi dari Pemprov Sulsel ke Pemkot Makassar kehilangan titik destinasi.

Kota Makassar digembleng oleh sosok kontraktor yang tidak mementingkan etika dan norma-norma pemerintahan selama delapan tahun terakhir ini. Level pemerintahan dalam otonomi daerah tidak menjadi referensi bagi aparat pemerintah Kota Makassar dalam melayani kebutuhan daerahnya.

Sikap "pemberontak" walikota Makassar seperti itu pernah ditunjukkan saat Pemprov Sulsel meluncurkan pembangunan kawasan Center Point Of Indonesia (COI) di bilangan pesisir Kota Makassar. Pihak Pemkot Makassar mengaku belum pernah mengeluarkan izin bagi pelaksanaan proyek Pemprov Sulsel tersebut.

Sikap pemkot Makassar seperti ini, tentu saja sulit diterima menurut azas-azas pemerintahan dalam otonomi daerah. Provinsi Sulsel ibarat bagian dari Kota Makassar. Oleh karena itu, pemerintahan yang sehat di Sulawesi Selatan dengan mengembalikan pemkot Makassar ke Pemprov Sulsel adalah suatu keniscayaan.

Irman Yasin Limpo adalah sosok birokrat yang lebih kenyang dengan urusan pemerintahan. Tentu saja karena itu, Irman YL yang paling berpeluang bisa mengembalikan permerintahan kota Makassar di bawah naungan Pemprov Sulsel. Irman YL bukan kontraktor.

Meski Irman YL bukan manusia sempurna, sebagaimana kandidat calon walikota lainnya. Tetapi ia tidak pernah berdusta bahwa ia pernah presentase World Cities Summit Mayors Forum di Bilbao Spanyol, padahal pada kenyataannya itu tidak pernah terjadi.
Selengkapnya >>

Senin, 20 Mei 2013

Kadir Remehkan Irman YL, justru Rugikan Golkar

Tingkah paket kandidat Pilkada Kota Makassar 2013, Supomo Guntur - Kadir Halid (SUKA) meremehkan Irman YL sebagai figur calon walikota Makassar adalah tingkah yang tidak perlu. Tingkah itu justru merugikan Partai Golkar.

Kandidat SUKA tidak perlu mengurusi kandidat lain. Karena SUKA adalah kandidat usungan Partai Golkar, dengan tingkahnya yang seperti itu, tentu saja Partai Golkar yang paling dirugikan. 

Kandidat Partai Golkar sekaliber Syahrul YL saja, tidak pernah meremehkan kompetitornya. Bahkan, kandidat Partai Golkar yang pas-pasan pun tidak sampai meremehkan kompetitornya. 

Cara-cara partai Golkar itu tidak meremehkan. Tetapi mengedepankan karya, kapasitas, kapabilitas dan kompetensi kandidat itu sendiri. Yang seperti itu, bukan tanda-tanda Partai Golkar.


Selengkapnya >>

Senin, 13 Mei 2013

Natsir Mansyur: Nurdin Halid harus Mundur dari Golkar

Kekisruhan kepada anggota golkar sulsel yg terjadi saat ini dan menimbulkan kekisruhan di beberapa daerah di sulsel akan sangat mempengaruhi perolehan suara golkar, baik di pilkada maupun di pemilihan legislatif serta pilpres nanti.  

Untuk legislatif dpr ri yg ditargetkan nanti 2014 ditargetkan 11 kursi, saya kira 8 kursi asja yg dapat diraih, krn partai lain akan memanfaatkan kekisruhan dan keresahan anggota ini. Persoalan ini perlu segera diperbaiki sebelum perolehan suara golkar di Sulsel turun. 

Saya minta korwil golkar sdr Nurdin Halid dan Korprov Golkar Sulsel mundur sebelum suara Golkar turun drastis. Ini perlu agar ke depan kekisruhan dan keresahaan tdk bertambah parah. Kasihan Golkar kalau begini.

Thanks 
Natsir Mmansyur 
Pengurus DPP Partai Golkar

Aci, Natsir Mansyur, 0811853066

Selengkapnya >>

Rabu, 08 Mei 2013

Supomo Guntur Pilih Uang

Nurdin Halid atas nama DPP Golkar, telah memutuskan adik kandungnya, Kadir Halid mendampingi Supomo Guntur sebagai kandidat Pilkada Kota Makassar 2013. Sebelum keputusan itu, sempat berkembang ketegangan-ketegangan kecil yang terkait dengan tiga figur lain yang juga berjuang untuk ditetapkan mendampingi Supomo. 

Tiga figur kader Golkar lainnya itu adalah Haris Yasin Limpo, Farouk M Betta, dan Andi Yagkin Padjalangi. Golkar Makassar menjagokan Haris dan Farouk, sementara Golkar Sulsel menjagokan Yagkin. DPP Golkar sendiri melalui Nurdin Halid menjagokan Kadir Halid.

Supomo ditetapkan lebih dahulu sebagai calon walikoka oleh DPP. Sementara pendampingnya, DPP serahkan kepada Supomo untuk menentukan sendiri. Hasilnya di kemudian hari, Supomo kirim hanya nama Kadir Halid kepada Nurdin Halid. 

Dalam sebulan terakhir, memang hanya kepada Nurdin Halid, Supomo meminta asistensi. Sementara terhadap Syahrul YL, ketua Golkar Sulsel, Supomo lebih memilih menghindar. Jadi, tentu saja Supomo mengusul nama pendampingnya berdasarkan asistensi dengan Nurdin Halid selama sebulan ini. 

Kuat dugaan, Supomo tidak memilih kehendak Syahrul YL karena pertimbangan finansial. Saya juga ikut mengetahui bahwa dalam soal dukungan uang, Syahrul bukanlah pilihan yang sepenuhnya betul. Meski demikian, Syahrul punya loyalis, punya konsep pemenangan yang "garated", dan punya tim yang berkali-kali terbukti memenangkan kandidat pilkada. 

Faktanya saat ini, Supomo lebih memilih kehendak Nurdin Halid sambil mengabaikan pertimbangan-pertimbangan Syahrul YL. Hal ini bisa berarti bahwa Nurdin Halid lebih bisa menjanjikan dukungan finansial. Alasan yang paling dekat bagi Supomo adalah bahwa untuk memenangkan pilkada Kota Makassar 2013, Supomo memerlukan dana yang terbilang besar. 

Karena itu, Nurdin Halid merupakan satu-satunya pilihan bagi Supomo untuk menjadi pendampingnya: Supomo Guntur - Nurdin Halid. Untuk operasionalnya, Nurdin menunjuk adiknya untuk menjalankan peran-perannya sebagai calon wakil walikota hingga selesai pilkada. 

Sepengetahuan saya, Partai Golkar wajib bekerja untuk mensukseskan paket resmi ini, mulai dari DPP hingga pimpinan tingkat kelurahan. Suara Golkar, Suara Rakyat.

Makassar, 8 Mei 2013

Selengkapnya >>

Jumat, 03 Mei 2013

Narsisme Akut

Akhirnya, saya ditelan oleh arus narsisme. Suatu nasisme akut untuk mengusir ketidak-terkenalan

Selengkapnya >>

Sabtu, 20 April 2013

Buntut Kekalahan Di Pilkada Sinjai Dan Palopo - DPD I Minta DPP Golkar Bertanggungjawab

M. Roem/Wakil Ketua Bid Organisasi Partai Golkar Sulsel
MAKASSAR– Kekalahan kandidat yang diusung Partai Golkar Sulsel pada Pilkada Palopo dan Sinjai berpotensi terulang pada delapan daerah lainnya yang menggelar suksesi bupati/ wali kota, tahun ini.

Kekalahan tersebut dinilai menjadi tanggung jawab DPP Partai Golkar. Karena itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Sulsel mendesak DPP melakukan evaluasi dalam penentuan pasangan calon yang diusung. Apalagi, penetapan pasangan calon yang kalah dalam dua Pilkada terakhir, terkesan dipaksakan elit DPP Partai Golkar.

Wakil Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muh Roem, menyatakan, kekalahan kandidat yang diusung partai di Palopo dan Sinjai harus segera disikapi, agar ke depannya partai berlambang beringin tidak menjadi bulan-bulanan parpol lain. “DPP harus terbuka, dan melakukan evaluasi perekrutan serta penentuan pasangan calon sehingga tidak terjadi lagi kondisi seperti di Palopo dan Sinjai.

Ini demi kebaikan partai,” tegas Roem, kepada KORAN SINDO, di DPRD Sulsel, kemarin. Roem yang juga Ketua DPRD Sulsel ini menuturkan, desakan DPD I agar DPP mengevaluasi diri dilontarkan karena pengurus di daerah semata-mata ingin melihat partai lebih baik. Jangan sampai, ada kesan jika partai tak serius dalam penentuan kandidat.

Sekadar diketahui, penentuan pasangan calon bupati-wakil bupati dari Partai Golkar dikendalikan Kordinator Pemenangan Wilayah Sulawesi DPP Nurdin Halid. Sejak mantan Ketua Umum PSSI itu diberikan kewenangan, tidak sedikit jagoan partai beringin yang keok. Terbaru di Sinjai. Perolehan suara pasangan Andi Mahyanto- Andi Massalinri Latief berada di posisi ketiga, setelah jagoan Demokrat Sabirin Yahya- Andi Fajar, dan calon Gerindra, Andi Seto Ghadista Asapa- Andi Mukhtar.

Ditengarai, skenario tersebut untuk memuluskan langkah Andi Seto Ghadista Asapa yang tidak lain adalah anak menantu Nurdin Halid, menduduki kursi bupati Sinjai. Nurdin yang menjadi penentu usungan Golkar, memilih Mahyanto-Massalinri kendati hasil survei beberapa lembaga saat itu menunjukkan jika elektabilitas dan popularitas duet Golkar-Golkar ini, tertinggal dari Sabirin maupun Seto.

Terkait dugaan maneuver Nurdin Halid tersebut, Moh Roem yang tak lain mantan Bupati Sinjai dua periode, enggan menanggapi. Kendati demikian, dia mengingatkan jika Partai Golkar bukan milik perseorangan. “Yang jelasnya partai ini adalah organisasi, bukan milik keluarga atau perorangan. Dan kami tidak tahu apakah ada kaitan antara menantu dengan mertua yang merupakan petinggi DPP (Nurdin Halid),” papar Roem.

Kader di Daerah Bingung

Sementara itu, terkait penentuan usungan yang prosesnya sementara berjalan di delapan daerah, seperti di Enrekang, DPD I memastikan belum ada yang final, termasuk kandidat yang sempat ditetapkan DPP melalui Nurdin Halid, Muslimin Bando. Roem menegaskan, baik calon bupati maupun wakil bupati, belum satupun ada yang direkomendasikan di daerah itu.

Apalagi, tahapannya masih berjalan, seperti pendaftaran. Meskimasihberjalan, namun dia tidak menampik, akibat keputusan DPP yang disampaikan Nurdinbelumlamaini, membuat kalangan pengurus, dan kader merasa dilematis tentang siapa yang direkomendasikan. “Memang ada kebingungan pada internal Golkar, sehingga harus dilihat secara arif, dan tidak saling menyalahkan, karena hal itu untuk kepentingan partai.

Kasus Enrekang tidak bisa dilihat secara sederhana, karena tahapan juga belum jalan,” tambah Roem. Seperti yang pernah diberitakan, khususdiEnrekang, DPPmelalui Nurdin saling tarik menarik dengan DPD I dibawah komando Syahrul Yasin Limpo. Nurdin ngototmerekomendasikan ketua DPD PAN Muslimin Bando, dengan pertimbangan hasil surveinyapalingtertinggi, meskisaat itu tahapan penjaringan di internal partai belum berjalan.

Sementara Syahrul melakukan penolakan, dengan alasan keputusan partai tetap sesuai mekanisme. Selain di Enrekang, gejala yang hampir sama mulai nampak di Makassar. Bedanya, di ibu kota Sulsel itu, perebutannya bukan di posisi calon wali kota, melainkan calon wakil. Kadir Halid ditengarai bakal didorong Nurdin mendampingi Supomo. Namun, skenario tersebut mendapat perlawanan dari kalangan pengurus DPD II.

Bahkan, pengurus menyatakan tidak akan segan-segan menolak keputusan DPP, jika hasilnya tidak sesuai aspirasi kader. Sementara di empat daerah lainnya, tarik menarik siapa yang diusung juga kemungkinan terjadi. Seperti di Parepare, ada lima kandidat yang menguat yakni Taufan Pawe, Taqyuddin, Faisal Sapada, Sjamsu Alam, dan putra ketua DPD II Zain Katoe, Herman Katoe.

Di Pinrang, incumbent Andi Aslam Patonangi, posisinya belum aman mengendari Golkar. Sebab, Ketua DPD II Abdi Baramuli, sejauh ini belum menyerah memburu rekomendasi partainya. Begitupun di Luwu, incumbent Andi Mudzakkar harus mewaspadai rival abadinya Basmin Mattayang dalam merebut restu partai beringin. Apalagi, Basmin yang juga mantan bupati Luwu, sejauh ini masih tercatat sebagai kader. Dia pernah menjadi ketua DPD II, sebelum direbut Cakka, sapaan akrab Andi Mudzakkar.

Di samping itu, istrinya, Haryana Basmin, yang tak lain ketua DPRD Luwu, juga masih punya peran strategis di partai. Kondisi yang sama terjadi di Jeneponto. Putra mahkota Bupati Radjamilo, Ashari F Radjamilo tidak bisa memandang remeh duet sekretaris kabupaten Iksan Iskandar dengan ketua DPRD Mulyadi Mustamu, untuk memperebutkan rekomendasi tertulis beringin. Khusus Wajo dan Sidrap, perebutan rekomendasinya nyaris tak nampak.

Incumbent di dua daerahitu, posisinya masihaman untuk mendapat rekomendasi. Rusdi Masse di Sidrap, dan Andi Burhanuddin Unru di Wajo. Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad, menuturkan, bila penentuan usungan Golkar masih seperti yang dilakukan DPP yang terkesan tertutup, maka potensi mengulangi kekalahan di Sinjai, bisa terjadi. “Ini yang semestinya mendapat perhatian khusus DPP. Jangan mengabaikan keinginan kadernya di bawah, karena sudah terbukti mereka tidak bisa solid kalau keputusannya dipaksakan,” pungkas Firdaus. 


Sumber : http://m.koran-sindo.com/node/309559
Akses : Sabtu, 20-04-2013
Penulis : rahmi djafar/ arif saleh
Selengkapnya >>

Sabtu, 02 Februari 2013

Pemerintahan Yang Sehat tanpa Ilham

Karena permintaan twitterland, postingan saya di TL @maqbulhalim dengan hastag #sehat, saya posting kembali. Kali ini, postingan tidak lagi di micro-blog twitter.com, tetapi melalui blog pribadi saya ini. Naskah yang sadur dari twitter ini saya edit kembali. Pengeditan ini dikarenakan untuk meluruskan beberapa kata yang disingkat atau disimbolkan pada twitter. Kita tahu bahwa karakter yang disiapkan twitter sangat terbatas. Dan karena itu, karakter pun digunakan seefisien mungkin saat topik ini saya posting di TL Twitter @maqbulhalim pada 1 Februari 2013:
-----------
Demi sehatnya pemerintahan di Provinsi Sulawesi Selatan, sebaiknya Ilham Arif Sirjauddin sebagai  Walikota Makassar mundur dari jabatannya sejak KPU Sulsel tetapkan pasangan SAYANG ditetapkan sebagai kandidat terpilih.

Apalagi, sampai saat ini, Ilham tetap tidak mengakui kemenangan Syahrul Yasin Limpo sebagai Gubernur Sulsel pada Pilgub Sulsel 2013 untuk periode kedua. Itu artinya, Ilham tetap merasa dirinyalah pemenang Pilgub Sulsel 2013. Baginya, Syahrul itu tidak lebih hebat dari dirinya. Mungkin seperti itu pikiran Ilham di kemudian setelah menjani Pilgub Sulsel kali ini.

Jika Ilham sebagai walikota Makassar yang harus diatur atau dikoordinis oleh Gubernur Sulsel  Syahrul Yasin Limpo, namun merasa lebih hebat dan lebih kuat dari pada Gubernur Syahrul, itu merupakan pertanda tidak sehat. Itulah sebabnya, Ilham sebaiknya mundur dari jabatan walikota Makassar. Tujuannya adalah agar roda pemerintahan Gubernur Syahrul lebih lancar.

Saat Ilham menyatakan kesiapannya menjadi calon gubernur jauh sebelum tahapan Pilgub Sulsel mulai bergulir pada Mei 2012, Ilham sudah memperlihatkan dirinya sejajar dengan Gubernur Syahrhul. Pada beberapa kali pertemuan koordinasi dengan bupati/walikota se-Sulsel yang dipimpin langsung Gubernur Syahrul, hanya beberapa kali yang dihadiri oleh Ilham. Jika pun Ilham hadir, beliau hanya mengikuti pertemuan tidak lebih dari 15 menit.

Menurut saya, perlawanan Ilham pasca kekalahannya di pilgub kali ini, kemungkinan akan berlanjut pada sabotase dalam koordinasi administrasi Gubernur Syahrul dengan bupati/walikotanya. Selama tahapan Pilgub Sulsel ini, Syahrul mungkin dongkol karena Ilham kerap tinggalkan pertemuan yang dipimpinnya. Sementara bupati/walikota lain masih tetap mengikuti pertemuan tersebut. Sekalipun lebih dari separuh bupati/walikota di Sulsel ini berusia lebih tua dari Gubernur Syahrul. #Sehat

Masa jabatan Ilham sebagai Walikota Makassar masih setahun lebih. Selama itu, Syahrul bakal dibangkangi oleh Ilham. Karena itu, mundurlah. Wassalam. #Sehat

Sumber: TL Twetter: @maqbulhalim
Selengkapnya >>

Jumat, 28 Desember 2012

Sudah Jelas Putih, tetap Bilang Hitam

Makassar, 28 Desember 2012

Portal Tribun Timur terus melanjutkan pemberitaannya perihal Surat Suara Pilgub Sulsel yang berlubang karena rusak yang ditemukan saat disortir di KPU Kota Palopo. Berita tentang surat suara ini bermula pada 27 Desember 2012 pukul 18:55 WITA (Ratusan Surat Suara di Palopo Sudah Tercoblos Gambar Sayang). Surat suara rusak ini sudah ditemukan sejak 25 Desember 2012, dan oleh KPU Palopo, diberita-acarakan sebagai surat suara rusak.

Belakangan, 27 Desember, surat suara itu disebut oleh Panwas Palopo bahwa telah tercoblos. Selanjutnya, Tribun Timur menyebut bahwa yang tercoblos adalah gambar pasangan Nomor Urut 2, Syahrul-Agus (SAYANG), sesuai keterangan Tim Cagub Ilham-Aziz (IA). Bahkan Tribun Timur yang pertama kali mengkapitalisasi tudingan bahwa Gambar Kandidat Nomor 2 yang tercoblos itu adalah kecurangan (Jekkong) yang sistematis melalui narasumber berita dari Tim IA.

Terkait dengan itu, melalui portalnya, Tribun Timur lebih lanjut mengembangkan pemberitaannya dengan melibatkan tim sayap IA, yakni BARAK 145 pada pukul 21:52 WITA. Berita yang berjudul "Barak 145: Kandidat Jekkong Sulit Lolos Sekarang" ini pun berusaha mempertajam kabar negatif ini ke Tim SAYANG.

Pada saat yang sama, KPU Palopo juga bereaksi cepat dengan beri klarifikasi. Klarifikasi itu dimuat oleh Luwuraya.Com bahwa tidak ada surat suara tercoblos. Sebelum Luwu Raya itu, Tribun Timur pada pukul 22.15 WITA, bahkan sudah klarifikasi juga dengan berita bahwa tidak ada surat suara tercoblos.

Klarifikasi KPU Palopo dan KPU Sulsel bahwa surat suara itu tidak tercoblos, melainkan rusak, juga termuat pada edisi cetak Jumat 28 Desember di harian FAJAR, SINDO Makassar, Tribun Timur, Cakrawala, dan beberapa media cetak lokal di Makassar.

Berita-berita pada edisi cetak itu, mestinya telah terbaca dengan baik oleh para redaktur dan reporter media cetak maupun OL pada Jumat siang, 28 Desember itu. Tapi ternyata perkembangan keadaan tidak seperti yang diharapkan.

Pada portalnya, Tribun Timur tetap menggunakan kata "Surat Suara Tercoblos", yang disertai dengan kata penajam, "Nomor Urut-2 Tercoblos". Kedua kata-kata itu tetap digunakan dalam pemberitaan, pada Jumat malam, 28 Desember.

Saya juga setuju bahwa kabar ini berhasil menyesatkan orang-orang pintar seperti Prof Halide dan Dr Hasrullah karena mungkin tidak tahu cerita yang sebenarnya. Tapi saya juga bisa ragu bahwa, apakah kedua orang pintar kita ini betul-betul tidak tahu, atau memilih tidak tahu! Wallahu Wa'lam.

Berikut ini adalah artikel berita Tribun Timur yang tetap gunakan kata "Surat Suara Tercoblos" (tidak peduli penjelasan KPU Palopo dan KPU Sulsel sebelumnya) dan kata "Nomor 2 Tercoblos" (padahal KPU Sulsel dan KPU Palopo sebelumnya sudah jelaskan bahwa lubang itu terdapat pada ketiga pasangan kadidat yang pada surat suara, bukan cuma pada Nomor 2):

1.
Soal Distribusi Surat Suara Bocor
Akademisi: KPU Sulsel Patut Dipertanyakan
Tribun Timur - Jumat, 28 Desember 2012 17:33 WITA

2.
Prof Halide Protes Gambar Syahrul Tercoblos di Kertas Suara KPU
Tribun Timur - Jumat, 28 Desember 2012 19:31 WITA

3.
Pilgub Sulsel
Direktur Cakra: Surat Suara Tercoblos Tamparan Buat KPU
Tribun Timur - Jumat, 28 Desember 2012 21:40 WITA


4.
Pilgub Sulsel 2013
CV Adi Perkasa Tanggapi Surat Suara Tercoblos di Palopo
Tribun Timur - Sabtu, 29 Desember 2012 00:38 WITA

Mengapa Tribun Timur tidak menggunakan kata "Surat Suara Rusak" setelah ada penjelasan dari KPU bahwa itu bukan tercoblos? Mengapa Tribun Timur tidak berhenti menggukan kata "Nomor 2 Tercoblos" setelah ada keterangan resmi dari KPU bahwa lubang itu ada pada gambar ketiga kandidat, yakni nomo 1, 2, dan 3? Ini pertanyaan jurnalisme yang seksi.

Tidak cukup dengan itu, Pihak KPU Sulsel melalui komisionernya dengan menggunakan telpon masing-masing mem-brodcast SMS klarifikasi. Saya menilai, SMS ini adalah tanggapan KPU melalui medium lain terhadap berita-berita Tribun Timur yang memilih tidak berhenti menggunakan kata "Surat Suara Tercoblos". Ini mungkin mirip orang buta warna: sudah jelas warna putih, masih tetap sebut hitam.

Berikut ini adalah isi SMS itu:

"ass, bahwa dgn adax pemberitaan pd tribun news kami dr kpu sulsel sdh mengklarifikasi hal tsbt pd kpu palopo dan yg terjadi adalah pd saat disortir didptkan ada bbrp srt suara yg ada lobang kecil sprt tusukan jarum tp tdk hanya tdpt pd salah satu calon,akan tetapi ada yg tdpt dibbrp psg calon,laporan smtr bhw srt suara tsbt msh dlm proses sortir semua u kategori SS yg rsk qta minta kpu kab inventarisasi,
data hasil sortir yang telah dilkk oleh teman kpu palopo :Berlobang kayak jarum,No. 1 = 108, No. 2 = 215, No. 3 = 85, Kotor sebanyak 31. Mengkerut/kusut/sobek sebanyak 12. Berlobang lebih dari satu gambar = 2 lbr Total sbanyak 453 lembar. Intix bukan di coblos tapi cacat dari percetakan. Makax disortir yg diawasi panwas dan dijaga polres. Wass"

Nah, mulai sekarang, mari kita berdoa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa agar kata "Surat Suara Tercoblos" dan "Nomor 2 Tercoblos" tidak lagi digunakan untuk membuat berita tentang surat suara rusak di KPU Palopo.

Maqbul Halim
Selengkapnya >>